Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘kelas VII’ Category


 S. Efiaty

Setiap kejadian atau peristiwa dapat dilihat dan dikaji dari berbagai sudut pandang atau aspek, baik ruang, waktu, kebutuhan, kemasyarakatan, dan budaya. Di dalam memahami keadaan alam dan aktivitas penduduk kita awali dengan memahami konsep keterkaitan (konektivitas) antar-ruang dan waktu. Ruang adalah tempat di permukaan bumi, baik secara keseluruhan maupun hanya sebagian (Sumaatmadja, 1981).  Misal ruang kelas yang kita tempati. Ruang kelas merupakan satu kesatuan antara komponen lantai,  udara, langit-langit/plafon ruangan, dan lain-lain. Demikian halnya dengan ruang permukaan bumi, yang tidak hanya sebatas tanah yang kita injak, tetapi ada udara, air, batuan, tumbuhan, hewan, dan lain-lain. Dalam sejarah, konsep waktu sangat penting untuk mengetahui peristiwa masa lalu dan perkembangannya hingga saat ini. Konsep waktu dalam sejarah mempunyai arti masa atau  periode berlangsungnya perjalanan kisah kehidupan manusia. Waktu dapat dibagi menjadi tiga, yaitu waktu lampau, waktu sekarang, dan waktu yang akan datang. Materi selengkapnya silahkan klik materi kls 7 bab 1 K13

 

Iklan

Read Full Post »


Geng Motor Bentrok di Pedes, Satu Tewas

diunduh hari Rabu, tanggal 28 Agustus 2013, pukul 11.35 dari:  http://www.radar-karawang.com/2013/04/geng-motor-bentrok-di-pedes-satu-tewas.html

 

PEDES, RAKA – Untuk kesekian kalinya, keberadaan geng motor kembali meresahkan. Bahkan, Minggu (7/4) dinihari, satu orang tewas akibat ulah berandalan motor itu di Kecamatan Pedes.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun RAKA, peristiwa tersebut terjadi sekitar jam empat dinihari, setelah sebelumnya mereka dibubarkan dan digiring aparat kepolisian dari Rengasdengklok. Namun ternyata mereka tidak bubar pulang ke rumah, melainkan membuat aksi keributan yang tanpa alasan jelas saling serang di sekitar PDAM Karangjati, Kecamatan Pedes yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia. Yang menjadi korbannya Geri Saputra (22), warga RT 04/04 Desa Karangjaya, Kecamatan Pedes. Meski sempat dibawa ke Rumah Sakit Proklamsi Dengklok, namun nyawanya tak bisa tertolong lantaran kehabisan darah sebelum tiba di rumah sakit.
Diperoleh informasi, sebelum terjadi peristiwa berdarah tersebut, gerombolan berandalan bermotor ini memang kerap meresahkan warga Pedes. Pada subuh nahas tersebut, gerombolan yang berjumlah 70 orang itu tiba-tiba menyerang korban dan rekannya yang kebetulan berpapasan di jalan dekat PDAM Karangjati Pedes. Dalam aksinya, gerombolan anak muda tanggung itu tiba-tiba melakukan pengeroyokan terhadap sejumlah pemuda yang menggunakan 4 sepeda motor. Kondisi ini membuat korban yang tewas, Geri dan kawan-kawannya masing-masing menyelamatkan diri.
Namun nahas bagi Geri, ia mendapat sabetan samurai yang mengenai paha kakinya yang berakibat robek dan terus mengeluarkan darah banyak. Sementara teman yang lainnya berhasil menyelamatkan diri meski mereka juga ada yang harus dioperasi kakinya karena putus terkena sabetan samurai.
Salah seorang korban yang ikut dikeroyok bersama Geri, Karudin, kepada RAKA mengatakan, awalnya dia mau pulang. Namun tiba-tiba berpapasan dengan anak geng motor dan mereka langsung mengelilingi dan melakukan pemukulan dengan menggunakan senjata tajam. “Tapi saya bisa meloloskan diri dan langsung sembunyi sambil tidak merasakan apa yang dialami saya. Untuk kelingking kaki saya yang patah dan terpaksa harus diamputasi, baru dirasa setelah kondisi aman,” akunya saat ditemui di rumahnya.
Salah seorang saksi mata di sekitar tempat kejadian, mengatakan kalau pengeroyokan warga biasa terjadi sekitar jam empat pagi. Mungkin karena pengaruh mabuk atau lainnya, tiba-tiba terjadi serangan kepada korban hingga harus menghembuskan napas terakhirnya sebelum sempat mendapat perawatan yang masimal dari rumah sakit. “Saya mengetahui korban dibawa ke Rumah Sakit Proklamasi dan nasibnya tidak tertolong karena terlalu banyak darah yang dikeluarkan,” aku pria yang meminta namanya dirahasiakan ini lantaran takut jadi sasaran geng motor berikutnya.
Ditambahkannya, keberadaan geng motor memang saat ini semakin banyak saja di Pedes, apalagi malam Minggu, mereka makin leluasa beredar. “Geng motor memang semakin banyak saja, kebanyakan mereka masih pelajar. Untuk kejadian tadi pagi pun, itu akibat adanya aksi saling adu kekuatan sesama geng motor,” terangnya pada RAKA.
Salah seorang petugas RS Proklamasi Rengasdengklok saat dikonfirmasi mengakui memang ada pasien meninggal akibat tawuran yang terjadi pagi kemarin atas nama Gery S. Namun untuk lebih lanjut ia meminta RAKA menghubungi pihak Polsek Pedes yang melakukan pemeriksaan terlebih dulu. “Kita tidak bisa menceritakan lebih lanjut. Karena memang hal ini sedang ditangani Polsek Pedes di mana tempat kejadian berada. Untuk korban atas nama Gery S memang ada, dan korban sudah dibawa pulang,” ujar petugas tersebut.
Sementara itu, Kapolsek Pedes AKP Wazirman mengatakan, pihaknya akan secepatnya menangkap pelaku pengeroyokan yang mengakibatkan satu nyawa melayang tersebut. “Saat ini kita sedang melakukan penyelidikan terlebih dulu. Karna kejadian ini akibat tawuran geng motor yang memang perlu penyelidikan sebelum kita bisa menangkap pelaku pembunuhan siapa,” tegasnya.
Ditambahkannya, keberadaan geng motor saat ini memang sudah meresahkan masyarakat. Untuk itu, pelaku pembunuh harus dicari hingga dapat. Sehingga selain pelanggaran yang mengakibatkan keresahan masyarakat, juga pelanggaran mengambil atau merampas nyawa orang lain. “Kita akan melakukan penyelidikan secara intensif, mudah- mudahan dalam waktu dekat kita bisa meringkus pelakunya,” terangnya.

Sangat Meresahkan
Di tempat berbeda, Kades Karangjaya Solihin mengatakan kalau aparatnya rutin menggelar ronda, namun geng motor sulit diatasi karena pandai mengelabui. Saat lengah seperti menjelang pagi, mereka tiba-tiba melakukan aksinya. “Dengan adanya kejadian ini saya harapkan pertama dan terakhir kalinya. Pihak desa akan lebih ketat dan waspada lagi dengan berkoordinasi kepada pihak Polsek Pedes,” tuturnya.
Ia juga berharap Polsek Pedes segera menangkap para pemuda berandalan yang belakangan ini meresahkan warga dengan melakukan aksi brutal di jalanan. Ulah berandalan tersebut, dianggap sebagian besar warga sudah keterlaluan dan sangat meresahkan, karena kerap melakukan aksi tawuran dan juga perusakan.
Selain meresahkan warga, keberadaan geng motor sudah mengancam jiwa. Untuk itu, geng motor atau  berandalan harus segera diamankan pihak kepolisian karena sering membuat keonaran di jalanan. Tercatat, aksi brutal dari berandalan jalanan itu sering merusak, kerap meresahkan warga, serta merusak kaca warung akibat terjadinya tawuran. “Warga sudah dibuat resah oleh aksi berandalan bermotor tersebut. Polisi sudah waktunya bergerak dan kami siap mendukung meski tidak membuka laporan khusus,” ungkap Sobari, warga Pedes.
Katanya, berandalan kerap beraksi di tempat-tempat yang mereka anggap pas. Biasanya kejadian itu dilakukan setiap malam Minggu diawali dengan aksi ugal-ugalan di jalan. Setiap kali beraksi, dimulai tengah malam hingga dini hari. “Mereka harus diamankan beserta sepeda motornya, karena terakhir kali dipergoki warga ada beberapa berandalan yang membawa senjata tajam,” terangnya.
Biasanya, bentrokan antar geng motor diawali saling ejek, terkadang akibat salah paham. Mereka juga kerap membawa botol-botol minuman keras serta bereneka senjata tajam. “Aksi brutal anak-anak ini sangat meresahkan masyarakat. Tetapi saat masyarakat sengaja menghadang aksi anak-anak tersebut, aksi brutal anak tersebut tidak terjadi,” ungkapnya. (dri)

Read Full Post »


tsunami-aceh-2004 

di unduh pada hari Rabu, tanggal 28 Agustus 2013, pukul 11.45 dari http://mymoen.wordpress.com/2009/12/26/bencana-tsunami-aceh-26-desember-2004-kisah-kelam-di-ujung-tahun/

 

26 Desember 2004…..

Gempa bumi tektonik berkekuatan 8,5 SR berpusat di Samudra India (2,9 LU dan 95,6 BT di kedalaman 20 km (di laut berjarak sekitar 149 km selatan kota Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam). Gempa itu disertai gelombang pasang (Tsunami) yang menyapu beberapa wilayah lepas pantai di Indonesia (Aceh dan Sumatera Utara), Sri Langka, India, Bangladesh, Malaysia, Maladewa dan Thailand.

Menurut Koordinator Bantuan Darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jan Egeland, jumlah korban tewas akibat badai tsunami di 13 negara (hingga minggu 2/1) mencapai 127.672 orang. Namun jumlah korban tewas di Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Afrika Timur yang sebenarnya tidak akan pernah bisa diketahui, diperkirakan sedikitnya 150.000 orang. PBB memperkirakan sebagian besar dari korban tewas tambahan berada di Indonesia. Pasalnya, sebagian besar bantuan kemanusiaan terhambat masuk karena masih banyak daerah yang terisolir.

Sementara itu data jumlah korban tewas di propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara menurut Departemen Sosial RI (11/1/2005) adalah 105.262 orang. Sedangkan menurut kantor berita Reuters, jumlah korban Tsunami diperkirakan sebanyak 168.183 jiwa dengan korban paling banyak diderita Indonesia, 115.229 (per Minggu 16/1/2005). Sedangkan total luka-luka sebanyak 124.057 orang, diperkirakan 100.000 diantaranya dialami rakyat Aceh dan Sumatera Utara.

 

Iitulah kisah suram 5 tahun silam yang terjadi di penghujung tahun 2004 silam. Namun, seiring waktu berjalan, segala perbaikan terus berjalan. Setidaknya, begitulah yang terbaca dan terdengar di media massa.

Akan tetapi, ironinya, masih terlihat adanya barak-barak yang berpenghuni, seperti di bantaran sungai Krueng Aceh, yang di kenal dengan Barak Bakoy. Memang kita tidak bisa menduga, apa yang terjadi ? Dengan dana yang melimpah, di dukung oleh sumber daya manusia yang multi culture, high intelegence, tapi semua ini masih terhidang di depan kita. Aneh..

Barak bakoy adalah salah satu bukti dari kisah silam yang masih ada, mungkin juga masih ada bakoy-bakoy lain yang belum sempat penulis tahu.

pict from : http://sekoteng.files.wordpress.com/2009/09/aceh.jpg

Read Full Post »


Sekhah Efiaty, S.Pd.

1. Batu

Batu Balanced terletak di taman Garden of the Gods di Colorado Springs, CO.

Dalam geologi, batu adalah benda padat yang tebuat secara alami dari mineral dan atau mineraloid. Lapisan luar padat Bumi, litosfer, terbuat dari batu. Dalam batuan umumnya adalah tiga jenis, yaitu batuan beku, sedimen, dan metamorf. Penelitian ilmiah batuan disebut petrologi, dan petrologi merupakan komponen penting dari geologi. . Dalam bangunan batu biasanya dipakai pada pondasi bangunan untuk bangunan dengan ketinggian kurang dari 10 meter, Batu juga dipakai untuk memperindah fasade bangunan dengan memberikan warna dan tekstur unik dari batu alam.

2. Jenis batuan

Bebatuan disepanjang sungai di dekat Orosí, Kosta Rika.

Batuan umumnya diklasifikasikan berdasarkan komposisi mineral dan kimia, dengan tekstur partikel unsur dan oleh proses yang membentuk mereka. Ciri – ciri ini mengklasifikasikan batuan menjadi beku, sedimen, dan metamorf. Mereka lebih diklasifikasikan berdasarkan ukuran partikel yang membentuk mereka. Transformasi dari satu jenis batuan yang lain digambarkan oleh model geologi.

Pengkelasan ini dibuat dengan berdasarkan:

  1. kandungan mineral yaitu jenis-jenis mineral yang terdapat di dalam batu ini.
  2. tekstur batu, yaitu ukuran dan bentuk hablur-hablur mineral di dalam batu
  3. struktur batu, yaitu susunan hablur mineral di dalam batu.
  4. proses pembentukan

Batu Koral yang dapat kita temui di pinggir sungai.

Batu-batu secara umum biasanya dibagi menurut proses yang membentuknya, dan dengan itu dibagi kepada tiga kumpulan yang besar yaitu:

  1. batu igneus
  2. batu endapan
  3. batu metamorfosis.

Batu igneus adalah batu yang terbentuk dari magma cair, batu endapan melalui endapan dan tekanan bahan tertentu, dan batu metamorfosis melalui salah satu dari dua cara yang disebut terdahulu setelah berubah akibat suhu dan tekanan. Dalam kasus-kasus di mana bahan organik meninggalkan jejak dirinya pada batu, hasil ini dikenali sebagai fosil.

a. Batuan beku (Batu Ignesius)

Contoh batuan beku; jalur yang berwarna lebih muda menunjukkan arah aliran

Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, “api”) adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik). Magma ini dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan yang sudah ada, baik di mantel ataupun kerak bumi. Umumnya, proses pelelehan terjadi oleh salah satu dari proses-proses berikut: kenaikan temperatur, penurunan tekanan, atau perubahan komposisi. Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil dideskripsikan, sebagian besar terbentuk di bawah permukaan kerak bumi.

Menurut para ahli seperti Turner dan Verhoogen (1960), F. F Groun (1947), Takeda (1970), magma didefinisikan sebagai cairan silikat kental yang pijar terbentuk secara alamiah, bertemperatur tinggi antara 1.500–2.5000C dan bersifat mobile (dapat bergerak) serta terdapat pada kerak bumi bagian bawah. Dalam magma tersebut terdapat beberapa bahan yang larut, bersifat volatile (air, CO2, chlorine, fluorine, iron, sulphur, dan lain-lain) yang merupakan penyebab mobilitas magma, dan non-volatile (non-gas) yang merupakan pembentuk mineral yang lazim dijumpai dalam batuan beku.

Pada saat magma mengalami penurunan suhu akibat perjalanan ke permukaan bumi, maka mineral-mineral akan terbentuk. Peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa penghabluran. Berdasarkan penghabluran mineral-mineral silikat (magma), oleh NL. Bowen disusun suatu seri yang dikenal dengan Bowen’s Reaction Series.

Dalam mengidentifikasi batuan beku, sangat perlu sekali mengetahui karakteristik batuan beku yang meliputi sifat fisik dan komposisi mineral batuan beku. Dalam membicarakan masalah sifat fisik batuan beku tidak akan lepas dari

Tekstur

Tekstur didefinisikan sebagai keadaan atau hubungan yang erat antar mineral-mineral sebagai bagian dari batuan dan antara mineral-mineral dengan massa gelas yang membentuk massa dasar dari batuan.

Tekstur pada batuan beku umumnya ditentukan oleh tiga hal yang penting, yaitu:

A. Kristalinitas
Kristalinitas adalah derajat kristalisasi dari suatu batuan beku pada waktu terbentuknya batuan tersebut. Kristalinitas dalam fungsinya digunakan untuk menunjukkan berapa banyak yang berbentuk kristal dan yang tidak berbentuk kristal, selain itu juga dapat mencerminkan kecepatan pembekuan magma. Apabila magma dalam pembekuannya berlangsung lambat maka kristalnya kasar. Sedangkan jika pembekuannya berlangsung cepat maka kristalnya akan halus, akan tetapi jika pendinginannya berlangsung dengan cepat sekali maka kristalnya berbentuk amorf.

Dalam pembentukannnya dikenal tiga kelas derajat kristalisasi, yaitu:

Holokristalin, yaitu batuan beku dimana semuanya tersusun oleh kristal. Tekstur holokristalin adalah karakteristik batuan plutonik, yaitu mikrokristalin yang telah membeku di dekat permukaan.
Hipokristalin, yaitu apabila sebagian batuan terdiri dari massa gelas dan sebagian lagi terdiri dari massa kristal.
Holohialin, yaitu batuan beku yang semuanya tersusun dari massa gelas. Tekstur holohialin banyak terbentuk sebagai lava (obsidian), dike dan sill, atau sebagai fasies yang lebih kecil dari tubuh batuan.
B. Granularitas
Granularitas didefinisikan sebagai besar butir (ukuran) pada batuan beku. Pada umumnya dikenal dua kelompok tekstur ukuran butir, yaitu:

1. Fanerik/fanerokristalin, Besar kristal-kristal dari golongan ini dapat dibedakan satu sama lain secara megaskopis dengan mata biasa. Kristal-kristal jenis fanerik ini dapat dibedakan menjadi:

– Halus (fine), apabila ukuran diameter butir kurang dari 1 mm.
– Sedang (medium), apabila ukuran diameter butir antara 1 – 5 mm.
– Kasar (coarse), apabila ukuran diameter butir antara 5 – 30 mm.
– Sangat kasar (very coarse), apabila ukuran diameter butir lebih dari 30 mm.

2. Afanitik, Besar kristal-kristal dari golongan ini tidak dapat dibedakan dengan mata biasa sehingga diperlukan bantuan mikroskop. Batuan dengan tekstur afanitik dapat tersusun oleh kristal, gelas atau keduanya. Dalam analisa mikroskopis dapat dibedakan:

Mikrokristalin, apabila mineral-mineral pada batuan beku bisa diamati dengan bantuan mikroskop dengan ukuran butiran sekitar 0,1 – 0,01 mm.
Kriptokristalin, apabila mineral-mineral dalam batuan beku terlalu kecil untuk diamati meskipun dengan bantuan mikroskop. Ukuran butiran berkisar antara 0,01 – 0,002 mm.
Amorf/glassy/hyaline, apabila batuan beku tersusun oleh gelas.
C. Bentuk Kristal
Bentuk kristal adalah sifat dari suatu kristal dalam batuan, jadi bukan sifat batuan secara keseluruhan. Ditinjau dari pandangan dua dimensi dikenal tiga bentuk kristal, yaitu:
– Euhedral, apabila batas dari mineral adalah bentuk asli dari bidang kristal.
– Subhedral, apabila sebagian dari batas kristalnya sudah tidak terlihat lagi.
– Anhedral, apabila mineral sudah tidak mempunyai bidang kristal asli.
– Ditinjau dari pandangan tiga dimensi, dikenal empat bentuk kristal, yaitu:
– Equidimensional, apabila bentuk kristal ketiga dimensinya sama panjang.
– Tabular, apabila bentuk kristal dua dimensi lebih panjang dari satu dimensi yang lain.
– Prismitik, apabila bentuk kristal satu dimensi lebih panjang dari dua dimensi yang lain.
– Irregular, apabila bentuk kristal tidak teratur.
D. Hubungan Antar Kristal
Hubungan antar kristal atau disebut juga relasi didefinisikan sebagai hubungan antara kristal/mineral yang satu dengan yang lain dalam suatu batuan. Secara garis besar, relasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
– Equigranular, yaitu apabila secara relatif ukuran kristalnya yang membentuk batuan berukuran sama besar. Berdasarkan keidealan kristal-kristalnya, maka equigranular dibagi menjadi tiga, yaitu:
– Panidiomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang euhedral.
– Hipidiomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang subhedral.
– Allotriomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang anhedral.
– Inequigranular, yaitu apabila ukuran butir kristalnya sebagai pembentuk batuan tidak sama besar. Mineral yang besar disebut fenokris dan yang lain disebut massa dasar atau matrik yang bisa berupa mineral atau gelas.

Struktur

Struktur adalah kenampakan batuan secara makro yang meliputi kedudukan lapisan yang jelas/umum dari lapisan batuan. Struktur batuan beku sebagian besar hanya dapat dilihat dilapangan saja, misalnya:

• Pillow lava atau lava bantal, yaitu struktur paling khas dari batuan vulkanik bawah laut, membentuk struktur seperti bantal.
• Joint struktur, merupakan struktur yang ditandai adanya kekar-kekar yang tersusun secara teratur tegak lurus arah aliran. Sedangkan struktur yang dapat dilihat pada contoh-contoh batuan (hand speciment sample), yaitu:
• Masif, yaitu apabila tidak menunjukkan adanya sifat aliran, jejak gas (tidak menunjukkan adanya lubang-lubang) dan tidak menunjukkan adanya fragmen lain yang tertanam dalam tubuh batuan beku.
• Vesikuler, yaitu struktur yang berlubang-lubang yang disebabkan oleh keluarnya gas pada waktu pembekuan magma. Lubang-lubang tersebut menunjukkan arah yang teratur.
• Skoria, yaitu struktur yang sama dengan struktur vesikuler tetapi lubang-lubangnya besar dan menunjukkan arah yang tidak teratur.
• Amigdaloidal, yaitu struktur dimana lubang-lubang gas telah terisi oleh mineral-mineral sekunder, biasanya mineral silikat atau karbonat.
• Xenolitis, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya fragmen/pecahan batuan lain yang masuk dalam batuan yang mengintrusi.
• Pada umumnya batuan beku tanpa struktur (masif), sedangkan struktur-struktur yang ada pada batuan beku dibentuk oleh kekar (joint) atau rekahan (fracture) dan pembekuan magma, misalnya: columnar joint (kekar tiang), dan sheeting joint (kekar berlembar).

Komposisi Mineral

Untuk menentukan komposisi mineral pada batuan beku, cukup dengan mempergunakan indeks warna dari batuan kristal. Atas dasar warna mineral sebagai penyusun batuan beku dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

• Mineral felsik, yaitu mineral yang berwarna terang, terutama terdiri dari mineral kwarsa, feldspar, feldspatoid dan muskovit.
• Mineral mafik, yaitu mineral yang berwarna gelap, terutama biotit, piroksen, amphibol dan olivin.

Batuan beku dapat diklasifikasikan berdasarkan cara terjadinya, kandungan SiO2, dan indeks warna. Dengan demikian dapat ditentukan nama batuan yang berbeda-beda meskipun dalam jenis batuan yang sama, menurut dasar klasifikasinya.

Klasifikasi berdasarkan cara terjadinya, menurut Rosenbusch (1877-1976) batuan beku dibagi menjadi:

• Effusive rock, untuk batuan beku yang terbentuk di permukaan.
• Dike rock, untuk batuan beku yang terbentuk dekat permukaan.
• Deep seated rock, untuk batuan beku yang jauh di dalam bumi. Oleh W.T. Huang (1962), jenis batuan ini disebut plutonik, sedang batuan effusive disebut batuan vulkanik.

Klasifikasi berdasarkan kandungan SiO2 (C.L. Hugnes, 1962), yaitu:

• Batuan beku asam, apabila kandungan SiO2 lebih dari 66%. Contohnya adalah riolit.
• Batuan beku intermediate, apabila kandungan SiO2 antara 52% – 66%. Contohnya adalah dasit.
• Batuan beku basa, apabila kandungan SiO2 antara 45% – 52%. Contohnya adalah andesit.
• Batuan beku ultra basa, apabila kandungan SiO2 kurang dari 45%. Contohnya adalah basalt.

Klasifikasi berdasarkan indeks warna ( S.J. Shand, 1943), yaitu:

• Leucoctaris rock, apabila mengandung kurang dari 30% mineral mafik.
• Mesococtik rock, apabila mengandung 30% – 60% mineral mafik.
• Melanocractik rock, apabila mengandung lebih dari 60% mineral mafik.

Sedangkan menurut S.J. Ellis (1948) juga membagi batuan beku berdasarkan indeks warnanya sebagai berikut:

• Holofelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna kurang dari 10%.
• Felsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 10% sampai 40%.
• Mafelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 40% sampai 70%.
• Mafik, untuk batuan beku dengan indeks warna lebih dari 70%.

b. Batuan Endapan (Batuan Sedimen)

Batuan Endapan(sedimentary rocks), terjadi dari proses pengendapan dan atau pemadatan bagian – bagian hasil pelapukan batuan beku atau batuan metamorf. Bila hasil endapan tersebut sudah keras maka disebut batuan endapan, bila masih agak lunak dan terlepas – lepas disebut aluvial atau bahan endapan.

c. Batuan Malihan (Batuan Metamorf)


Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk dari proses metamorfisme batuan-batuan sebelumnya karena perubahan temperatur dan tekanan. Metamorfisme terjadi pada keadaan padat (padat ke padat) meliputi proses kristalisasi, reorientasi dan pembentukan mineral-mineral baru serta terjadi dalam lingkungan yang sama sekali berbeda dengan lingkungan batuan asalnya terbentuk. Banyak mineral yang mempunyai batas-batas kestabilan tertentu yang jika dikenakan tekanan dan temperatur yang melebihi batas tersebut maka akan terjadi penyesuaian dalam batuan dengan membentuk mineral-mineral baru yang stabil. Disamping karena pengaruh tekanan dan temperatur, metamorfisme juga dipengaruhi oleh fluida, dimana fluida (H2O) dalam jumlah bervariasi di antara butiran mineral atau pori-pori batuan yang pada umumnya mengandung ion terlarut akan mempercepat proses metamorfisme.

Batuan metamorf memiliki beragam karakteristik. Karakteristik ini dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam pembentukan batuan tersebut ;

–          Komposisi mineral batuan asal

–          Tekanan dan temperatur saat proses metamorfisme

–          Pengaruh gaya tektonik

–          Pengaruh fluida

Pada pengklasifikasiannya berdasarkan struktur, batuan metamorf diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

–          Foliasi, struktur planar pada batuan metamorf sebagai akibat dari pengaruh tekanan diferensial (berbeda) pada saat proses metamorfisme.

–          Non foliasi, struktur batuan metamorf yang tidak memperlihatkan penjajaran mineral-mineral dalam batuan tersebut.

Jenis-jenis Metamorfisme

  1. Metamorfisme kontak/termal

Metamorfisme oleh temperatur tinggi pada intrusi magma atau ekstrusi lava.

  1. Metamorfisme regional

Metamorfisme oleh kenaikan tekanan dan temperatur yang sedang, dan terjadi pada daerah yang luas.

  1. Metamorfisme Dinamik

Metamorfisme akibat tekanan diferensial yang tinggi akibat pergerakan patahan lempeng.

Facies Metamorfisme

Facies merupakan suatu pengelompokkan mineral-mineral metamorfik berdasarkan tekanan dan temperatur dalam pembentukannya pada batuan metamorf. Setiap facies pada batuan metamorf pada umumnya dinamakan berdasarkan jenis batuan (kumpulan mineral), kesamaan sifat-sifat fisik atau kimia.

Dalam hubungannya, tekstur dan struktur batuan metamorf sangat dipengaruhi oleh tekanan dan temperatur dalam proses metamorfisme. Dan dalam facies metamorfisme, tekanan dan temperatur merupakan faktor dominan, dimana semakin tinggi derajat metamorfisme (facies berkembang), struktur akan semakin berfoliasi dan mineral-mineral metamorfik akan semakin tampak kasar dan besar.

Macam-macam Batuan Metamorfisme

1. Slate

Slate merupakan batuan metamorf terbentuk dari proses metamorfosisme batuan sedimen Shale atau Mudstone (batulempung) pada temperatur dan suhu yang rendah. Memiliki struktur foliasi (slaty cleavage) dan tersusun atas butir-butir yang sangat halus (very fine grained).

Asal                             : Metamorfisme Shale dan Mudstone

Warna                          : Abu-abu, hitam, hijau, merah

Ukuran butir                : Very fine grained

Struktur                       : Foliated (Slaty Cleavage)

Komposisi                   : Quartz, Muscovite, Illite

Derajat metamorfisme : Rendah

Ciri khas                      : Mudah membelah menjadi lembaran tipis

2. Filit

Merupakan batuan metamorf yang umumnya tersusun atas kuarsa, sericite mica dan klorit. Terbentuk dari kelanjutan proses metamorfosisme dari Slate.

Asal                             : Metamorfisme Shale

Warna                          : Merah, kehijauan

Ukuran butir                : Halus

Stuktur                        : Foliated (Slaty-Schistose)

Komposisi                   : Mika, kuarsa

Derajat metamorfisme : Rendah – Intermediate

Ciri khas                      : Membelah mengikuti permukaan gelombang

3. Gneiss

Merupakan batuan yang terbentuk dari hasil metamorfosisme batuan beku dalam temperatur dan tekanan yang tinggi. Dalam Gneiss dapat diperoleh rekristalisasi dan foliasi dari kuarsa, feldspar, mika dan amphibole.

Asal                                   : Metamorfisme regional siltstone, shale, granit

Warna                                : Abu-abu

Ukuran butir                      : Medium – Coarse grained

Struktur                             : Foliated (Gneissic)

Komposisi                         : Kuarsa, feldspar, amphibole, mika

Derajat metamorfisme       : Tinggi

Ciri khas                            : Kuarsa dan feldspar nampak berselang-seling dengan lapisan tipis kaya amphibole dan mika.

4. Sekis

Schist (sekis) adalah batuan metamorf yang mengandung lapisan mika, grafit, horndlende. Mineral pada batuan ini umumnya terpisah menjadi berkas-berkas bergelombang yang diperlihatkan dengan kristal yang mengkilap.

Asal                             : Metamorfisme siltstone, shale, basalt

Warna                          : Hitam, hijau, ungu

Ukuran butir                : Fine – Medium Coarse

Struktur                       : Foliated (Schistose)

Komposisi                   : Mika, grafit, hornblende

Derajat metamorfisme : Intermediate – Tinggi

Ciri khas                      : Foliasi yang kadang bergelombang, terkadang terdapat kristal garnet

5. Marmer

Terbentuk ketika batu gamping mendapat tekanan dan panas sehingga mengalami perubahan dan rekristalisasi kalsit. Utamanya tersusun dari kalsium karbonat. Marmer bersifat padat, kompak dan tanpa foliasi.

Asal                             : Metamorfisme batu gamping, dolostone

Warna                          : Bervariasi

Ukuran butir                : Medium – Coarse Grained

Struktur                       : Non foliasi

Komposisi                   : Kalsit atau Dolomit

Derajat metamorfisme : Rendah – Tinggi

Ciri khas                      : Tekstur berupa butiran seperti gula, terkadang terdapat fosil, bereaksi dengan HCl.


6. Kuarsit

Adalah salah satu batuan metamorf yang keras dan kuat. Terbentuk ketika batupasir (sandstone) mendapat tekanan dan temperatur yang tinggi. Ketika batupasir bermetamorfosis menjadi kuarsit, butir-butir kuarsa mengalami rekristalisasi, dan biasanya tekstur dan struktur asal pada batupasir terhapus oleh proses metamorfosis .

Asal                             : Metamorfisme sandstone (batupasir)

Warna                          : Abu-abu, kekuningan, cokelat, merah

Ukuran butir                : Medium coarse

Struktur                       : Non foliasi

Komposisi                   : Kuarsa

Derajat metamorfisme : Intermediate – Tinggi

Ciri khas                      : Lebih keras dibanding glass


7. Milonit

Milonit merupakan batuan metamorf kompak. Terbentuk oleh rekristalisasi dinamis mineral-mineral pokok yang mengakibatkan pengurangan ukuran butir-butir batuan. Butir-butir batuan ini lebih halus dan dapat dibelah seperti schistose.

Asal                             : Metamorfisme dinamik

Warna                          : Abu-abu, kehitaman, coklat, biru

Ukuran butir                : Fine grained

Struktur                       : Non foliasi

Komposisi                   : Kemungkinan berbeda untuk setiap batuan

Derajat metamorfisme : Tinggi

Ciri khas                      : Dapat dibelah-belah


8. Filonit

Merupakan batuan metamorf dengan derajat metamorfisme lebih tinggi dari Slate. Umumnya terbentuk dari proses metamorfisme Shale dan Mudstone. Filonit mirip dengan milonit, namun memiliki ukuran butiran yang lebih kasar dibanding milonit dan tidak memiliki orientasi. Selain itu, filonit merupakan milonit yang kaya akan filosilikat (klorit atau mika)

Asal                             : Metamorfisme Shale, Mudstone

Warna                          : Abu-abu, coklat, hijau, biru, kehitaman

Ukuran butir                : Medium – Coarse grained

Struktur                       : Non foliasi

Komposisi                   : Beragam (kuarsa, mika, dll)

Derajat metamorfisme : Tinggi

Ciri khas                      : Permukaan terlihat berkilau


9. Serpetinit

Serpentinit, batuan yang terdiri atas satu atau lebih mineral serpentine dimana mineral ini dibentuk oleh proses serpentinisasi (serpentinization). Serpentinisasi adalah proses proses metamorfosis temperatur rendah yang menyertakan tekanan dan air, sedikit silica mafic dan batuan ultramafic teroksidasi dan ter-hidrolize dengan air menjadi serpentinit.

Asal               : Batuan beku basa

Warna            : Hijau terang / gelap

Ukuran butir  : Medium grained

Struktur         : Non foliasi

Komposisi     : Serpentine

Ciri khas        : Kilap berminyak dan lebih keras dibanding kuku jari

10. Hornfels

Hornfels terbentuk ketika shale dan claystone mengalami metamorfosis oleh temperatur dan intrusi beku, terbentuk di dekat dengan sumber panas seperti dapur magma, dike, sil. Hornfels bersifat padat tanpa foliasi.

Asal                             : Metamorfisme kontak shale dan claystone

Warna                          : Abu-abu, biru kehitaman, hitam

Ukuran butir                : Fine grained

Struktur                       : Non foliasi

Komposisi                   : Kuarsa, mika

Derajat metamorfisme : Metamorfisme kontak

Ciri khas                      : Lebih keras dari pada glass, tekstur merata

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Batu

http://id.wikipedia.org/wiki/Batu_igneus

http://moszablinkers182.blogspot.com/2010/08/proses-pembentukan-batuan.html

http://geohazard009.wordpress.com/2009/12/09/batuan-metamorf/

Read Full Post »


Sekhah Efiaty, S.Pd.

Materi berikut ini merupakan bahan ajar IPS SMP Kelas VII Semester 1 Bab 2 dengan judul  Life in The Preliterate Period in Indonesia

Read Full Post »


Sekhah Efiaty, S.Pd.

Jika kalian menginginkan materi SMP kelas VII Semester 1 Bab 1 maka klik materi berikut yang berjudul Forms of The Earth’s Surface

Read Full Post »

RASIO JENIS KELAMIN


Oleh: Sekhah Efiaty Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Index Artikel
Rasio Jenis Kelamin
Cara Menghitung
Data yang diperlukan
Contoh

Definisi

Rasio Jenis Kelamin (RJK) adalah perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan per 100 penduduk perempuan.


Kegunaan

Data mengenai rasio jenis kelamin berguna untuk pengembangan perencanaan pembangunan yang berwawasan gender, terutama yang berkaitan dengan perimbangan pembangunan laki-laki dan perempuan secara adil. Misalnya, karena adat dan kebiasaan jaman dulu yang lebih mengutamakan pendidikan laki-laki dibanding perempuan, maka pengembangan pendidikan berwawasan gender harus memperhitungkan kedua jenis kelamin dengan mengetahui berapa banyaknya laki-laki dan perempuan dalam umur yang sama. Informasi tentang rasio jenis kelamin juga penting diketahui oleh para politisi, terutama untuk meningkatkan keterwakilan perempuan dalam parlemen.

Cara Menghitung

RJK diperoleh dengan membagi jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan dan hasilnya dikalikan dengan 100.

Rumus

dimana

RJK adalah rasio jenis kelamin

∑ L adalah jumlah penduduk laki-laki di suatu daerah pada suatu waktu

∑ P adalah jumlah penduduk perempuan di suatu daerah pada suatu waktu

K =100 penduduk perempuan.

Data yang diperlukan
Jumlah penduduk laki-laki dan jumlah penduduk perempuan di daerah yang sama untuk suatu tahun tertentu.

Sumber Data
Tabulasi penduduk menururt jenis kelamin dari Sensus Penduduk, Supas atau Susenas dan lain lain.

Contoh
Jumlah penduduk laki-laki menurut Sensus Penduduk tahun 2000 adalah 103,179,900 orang, dan jumlah penduduk perempuan dari data yang sama adalah 102,663,400 orang. Jadi rasio jenis kelamin Penduduk Indonesia tahun 2000 adalah 101. Artinya, tiap tiap 100 penduduk perempuan ada sebanyak 101 penduduk laki-laki.
Rasio jenis kelamin lebih dari seratus untuk Indonesia baru pertama kali terjadi pada tahun 2000 ini. Sebelumnya rasio jenis kelamin berada sedikit dibawah 100, misalnya 98 atau 97. Artinya untuk tiap 100 penduduk perempuanhanya ada 97 atau 98 penduduk laki-laki. Di daerah di mana diperlukan banyak tenaga laki-laki untuk bekerja seperti di daerah pertambangan mempunyai rasio jenis kelamin lebih tinggi dari 100, artinya di daerah itu terdapat penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan.  Daerah yang ditinggalkan merantau oleh para laki-laki cenderung mempunyai rasio jenis kelamin dibawah 100 yang menunjukkan jumlah perempuan lebih banyak dari pada penduduk laki-laki.
Rasio jenis kelamin dapat diamati menurut umur penduduk.  Dari Tabel 1 di atas terlihat bahwa rasio jenis kelamin penduduk dibawah usia 14 tahun berada diatas angka 100. Artinya ada kemungkinan bahwa lebih banyak anak laki-laki yang dilaporkan dalam sensus dibanding anak perempuan. Di daerah dimana anak laki-laki lebih disukai dibanding anak perempuan (son preference) seperti di kalangan masyarakat Batak, di India atau China misalnya, rasio jenis kelamin anak-anak selalu diatas 100, karena ada kecenderungan kekurangan pelaporan (under-reporting) anak perempuan.

Sumber: http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/211/211/1/3/

Read Full Post »

Older Posts »