Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Menulis’ Category


Jepang (日本国 ), materi ini aslinya dalam bentuk power point, akan tetapi untuk melindungi hak cipta yang membuat dan sebagai bentuk apresiasi kami terhadap hasil karya siswa maka kami tayangkan dalam bentuk pdf

 

Read Full Post »


Sekhah Efiaty, S.Pd.

Penelitian Tindakan Kelas merupakan catatan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Catatan ini penting kita miliki agar proses pembelajaran menjadi bermutu. Mulai dari merencanakan proses pembelajaran, pelaksanaannya, evaluasi, sampai analisis hasil evaluasi. Apabila setelah di analisis ternyata hasil evaluasi belum menunjukkan hasil yang diharapkan maka ada kemungkinan terdapat kekurangan atau kesalahan pada salah satu faktor dalam proses pembelajaran tersebut. Setelah mengetahui adanya ketidakberesan ini, kita tidak boleh diam atau mendiamkan masalah yang ada. Kita wajib mengadakan koreksi untuk kemudian ditemukan sumber permasalahnnya. Apabila sumber permasalahan sudah kita temukan maka kita akan membuat rencana baru untuk pelaksanaan proses pembelajaran pada tahap selanjutnya. Begitu seterusnya sampai pembelajaran benar-benar mencapai hasil yang ditargetkan. Bila perlu pengulangan ini dilakukan tidak hanya satu kali tapi bisa lebih dari itu sampai hasil proses pembelajaran benar-benar memuaskan. Sederet catatan inilah yang sebenarnya merupakan tindakan kelas yang sehat dan kondusif dan boleh dikatakan sebagai upaya penelitian tindakan kelas.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. Inti gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin McTaggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan sebagainya.

PTK di Indonesia baru dikenal pada akhir dekade 80-an. Oleh karenanya, sampai dewasa ini keberadaannya sebagai salah satu jenis penelitian masih sering menjadikan pro dan kontra, terutama jika dikaitkan dengan bobot keilmiahannya.

Jenis penelitian ini dapat dilakukan didalam bidang pengembangan organisasi, manejemen, kesehatan atau kedokteran, pendidikan, dan sebagainya. Di dalam bidang pendidikan penelitian ini dapat dilakukan pada skala makro ataupun mikro. Dalam skala mikro misalnya dilakukan di dalam kelas pada waktu berlangsungnya suatu kegiatan belajar-mengajar untuk suatu pokok bahasan tertentu pada suatu mata kuliah. Untuk lebih detailnya berikut ini akan dikemukan mengenai hakikat PTK.

Menurut John Elliot bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya (Elliot, 1982). Seluruh prosesnya, telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dari perkembangan profesional. Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart, yang mengatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta–pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart, 1988).

Menurut Carr dan Kemmis seperti yang dikutip oleh Siswojo Hardjodipuro, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah PTK adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan (guru, siswa atau kepala sekolah) dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan yang dilakukan dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktik-praktik ini, dan (c) situasi-situasi ( dan lembaga-lembaga ) tempat praktik-praktik tersebut dilaksanakan (Harjodipuro, 1997).

Lebih lanjut, dijelaskan oleh Harjodipuro bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut dan agar mau utuk mengubahnya. PTK bukan sekedar mengajar, PTK mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar, dan menggunakan kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri untuk bersiap terhadap proses perubahan dan perbaikan proses pembelajaran. PTK mendorong guru untuk berani bertindak dan berpikir kritis dalam mengembangkan teori dan rasional bagi mereka sendiri, dan bertanggung jawab mengenai pelaksanaan tugasnya secara profesional.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, jelaslah bahwa dilakukannya PTK adalah dalam rangka guru bersedia untuk mengintropeksi, bercermin, merefleksi atau mengevalusi dirinya sendiri sehingga kemampuannya sebagai seorang guru/pengajar diharapkan cukup professional untuk selanjutnya, diharapkan dari peningkatan kemampuan diri tersebut dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas anak didiknya, baik dalam aspek penalaran; keterampilan, pengetahuan hubungan sosial maupun aspek-aspek lain yang bermanfaat bagi anak didik untuk menjadi dewasa.

Dengan dilaksanakannya PTK, berarti guru juga berkedudukan sebagai peneliti, yang senantiasa bersedia meningkatkan kualitas kemampuan mengajarnya. Upaya peningkatan kualitas tersebut diharapkan dilakukan secara sistematis, realities, dan rasional, yang disertai dengan meneliti semua “ aksinya di depan kelas sehingga gurulah yang tahu persis kekurangan-kekurangan dan kelebihannya. Apabila di dalam pelaksanaan “aksi” nya masih terdapat kekurangan, dia akan bersedia mengadakan perubahan sehingga di dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya tidak terjadi permasahan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar-mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Sementara itu, dilaksanakannya PTK di antaranya untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau pangajaran yang diselenggarakan oleh guru/pengajar-peneliti itu sendiri, yang dampaknya diharapkan tidak ada lagi permasalahan yang mengganjal di kelas.

Sumber:

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/21/penelitian-tindakan-kelas-part-ii/

Read Full Post »


0leh: Sekhah Efiaty, S.Pd.
Guru Geografi SMP Negeri 5 Yogyakarta

Proses pembelajaran merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan yang berujung dengan adanya perubahan. Proses pembelajaran terjadi pada siapapun, kapanpun, di manapun, dengan cara apapun, melalui indera apapun, dan dalam bentuk apapun. Proses pembelajaran yang terjadi pada dunia pendidikan formal, dapat dilakukan di dalam kelas (indoor) maupun di luar kelas (outdoor).
Pada masa sekarang, proses pembelajaran dimanjakan oleh adanya berbagai fasilitas, sumber dan media pendukung. Komputer dan internet merupakan fasilitas, sumber dan media pendukung pembelajaran yang sedang booming di dunia Pendidikan di Indonesia. Di mana-mana kita sering melihat sekolah-sekolah yang memfasilitasi proses pembelajaran dengan seperangkat media elektronik ini. Banyak sekolah yang menjadi maju dan kemudian difavoritkan oleh masyarakat karena media IT. Sekolah-sekolah ini menjadi unggul karena proses pembelajarannya menggunakan IT dan kemudahannya diakses informasinya melalui IT.
SMP Negeri 5 Yogyakarta merupakan salah satu sekolah di Indonesia yang unggul di bidang IT. Bahkan sekolah ini merupakan satu-satunya SMP di Indonesia yang masuk sebagai anggota ALCoB (APEC Learning Community Builders), yaitu suatu komunitas pembelajaran di bawah naungan APEC (Asia Pacific Economic Cooperation).
Meskipun belum menjadi sekolah yang berbasis E-Learning, namun dalam proses pembelajaran, SMP Negeri 5 Yogyakarta sudah tidak asing dengan dunia IT. Baik siswa maupun guru sebagian besar sudah bisa menggunakan IT, baik di dalam maupun di luar kelas. Banyak guru yang sudah memiliki alamat e-mail yang digunakan untuk komunikasi pembelajaran dengan siswa. Bahkan beberapa guru memanfaatkan Blog sebagai sumber dan media pembelajaran.

A. Blog.
Siapa orangnya yang tidak mengenal Blog. Mendengar nama Blog seperti mendengar nama koran, televisi, radio dan nama-nama lain di mana nama itu sama artinya dengan nama barang kebutuhan manusia sehari-hari. Blog sangat sering disebut. Di sekolah-sekolah, di perkantoran, di mal, kita sudah tidak asing jika seseorang sedang membicarakan tentang Blog. Mungkin tidak hanya membicarakannya, tapi juga sedang berhadapan.
Apa sebenarnya Blog? Blog ibarat catatan harian di era digital. Blog dapat berisi pengalaman ataupun catatan pribadi seseorang maupun suatu perkumpulan. Dengan Blog, seseorang dapat menuliskan apa saja yang dia inginkan, seperti ide, hobi, tulisan ilmiah, pesan, kesan dan apa saja yang ada di dalam pikirannya.
Secara teknis, Blog merupakan website pribadi yang berisi tulisan atau fitur yang selalu diupdate setiap saat oleh pemiliknya. Semakin sering diupdate oleh pemiliknya, maka sebuah Blog akan menjadi semakin menarik untuk dikunjungi, dengan tidak mengesampingkan tampilan dan mutu tulisan yang ada. Oleh karena itu, seorang pemilik Blog atau disebut Blogger, haruslah orang yang mau setiap saat memperbarui (mengupdate) isi Blognya. Untuk memperbanyak isi Blog, ia tidak harus membuat sendiri tetapi bisa link dari Blog milik Blogger yang lain. Bahkan tidak sedikit Blog yang tidak dibuat sendiri oleh pemiliknya tetapi dibuatkan oleh pihak lain.
Tema Blog dibuat sesuai dengan tujuan dari Blogger. Ada Blog yang bernuansa politik, ekonomi, sosial, budaya dan ada juga yang memuat bermacam-macam bidang informasi. Blog yang memiliki tema tertentu saja, biasanya pengunjungnya juga orang-orang yang hanya berminat pada tema tertentu. Sebaliknya untuk Blog yang memuat bermacam-macam bidang informasi, maka pengunjungnya akan lebih beragam dari berbagai kalangan.
Apabila kita ingin memiliki Blog yang notabene gratis, maka kita dapat membuatnya melalui layanan gratis yang sudah disediakan oleh beberapa penyedia blog gratis seperti:
http://www.wordpress.com
http://www.thoughts.com
http://www.multiply.com
http://www.blooger.com

B. Sumber Pembelajaran
Salah satu dari komponen dalam proses pembelajaran adalah adanya sumber pembelajaran. Sumber dalam proses pembelajaran sangat ikut menentukan berlangsungnya proses pembelajaran. Sumber pembelajaran yang kurang menarik akan mengurangi minat dan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Akibatnya siswa menjadi malas mengikuti proses pembelajaran. Jika siswa tidak tertarik mengikuti proses pembelajaran, maka kemungkinan besar kompetensi dan tujuan yang telah dirumuskan dalam rencana pembelajaran tidak akan tercapai. Sebaliknya sumber pembelajaran yang menarik akan membuat siswa malas beranjak dari berlangsungnya proses pembelajaran. Dengan lancarnya proses pembelajaran sudah dapat dijadikan gambaran bakal tercapainya kompetensi dan tujuan yang sudah dirumuskanpun dalam rencana pembelajaran
Menurut Association for Educational Communications and Technology (AECT, 1977), sumber pembelajaran adalah segala sesuatu atau daya yang dapat dimanfaatkan oleh guru, baik secara terpisah maupun dalam bentuk gabungan, untuk kepentingan belajar mengajar dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan efisiensi tujuan pembelajaran. Sumber pembelajaran dapat dikelompokan menjadi dua bagian, yaitu :

1. Sumber pembelajaran yang sengaja direncanakan (learning resources

by design), yakni semua sumber yang secara khusus telah dikembangkan

sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas

belajar yang terarah dan bersifat formal; dan

2. Sumber pembelajaran yang karena dimanfaatkan (learning resources by
utilization), yakni sumber belajar yang tidak secara khusus didisain untuk
keperluan pembelajaran namun dapat ditemukan, diaplikasikan, dan

dimanfaatkan untuk keperluan belajar, salah satunya adalah media massa.

Sumber pembelajaran juga dapat berupa pengalaman siswa, lingkungan     tempat tinggal, lingkungan sekolah, fenomena sosial maupun fenomena alam yang sedang terjadi. Sebenarnya sumber pembelajaran yang langsung diperoleh siswa itulah yang memiliki makna lebih dari pada  sumber pembelajaran yang sudah disiapkan baik dalam bentuk cetakan maupun digital. Sumber pembelajaran yang langsung dialami oleh siswa  jauh lebih kontekstual. Dari sumber yang ada siswa langsung dapat menyikapi dan mencari solusi apa yang harus dilakukan. Hal ini lebih berkualitas lagi apabila didukung oleh penguasaan konsep yang dimiliki siswa sebagai peserta didik. Penguasaan konsep akan suatu hal dapat diperoleh siswa baik langsung maupun melalui guru sebagai fasilitator.
Konsep suatu materi pembelajaran banyak sumbernya. Pada saat sekarang telah terjadi perubahan paradigma dalam pembelajaran. Guru bukan lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran atau sumber informasi (teacher centered) melainkan sebagai fasilitator, motivatir, dan menejer dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu keberhasilan proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh semua komponen yang terlibat, terutama keaktifan siswa (student centered).
Kepiawaian guru dalam memenej proses pembelajaran sangat penting. Di antaranya adalah dalam memilih sumber pembelajaran. Sumber pembelajaran yang tidak berupa pengalaman langsung yang dialami siswa dapat diperoleh umumnya dalam bentuk cetakan. Namun demikian pada era digital sekarang ini banyak sekali sumber pembelajaran yang berasal dari media elektronik, baik dari radio, televisi, internet maupun berbentuk program atau software dalam komputer.

C. Media Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran diperlukan perantara yang berperan sebagai penghubung antara pebelajar yang satu dengan pebelajar yang lain. Perantara yang dimaksud sering disebut sebagai Media Pembelajaran. Ada beberapa definisi yang berkaitan dengan Media Pembelajaran, yaitu:
1. Briggs (1970)
Media sebagai alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa belajar.
2. Association for Educational Communication Technology / AET (1971)
Media segala bentuk yang dipergunakan untuk proses penyaluran informasi.
3. Hamidjojo (1981)
Media adalah segala bentuk perantara yang dipakai orang untuk menyebarkan ide
sehingga gagasan tersebut sampai pada si penerima.
Pada saat ini, media pembelajaran bukan sekedar sarana yang menyalurkan pesan pembelajaran yang disampaikan guru di dalam kelas, tetapi lebih dari itu, karena siswa di dalam kelas bukan lagi sebagai penerima pesan. Dalam proses pembelajaran, guru dan siswa harus berinteraksi. Interaksi tidak harus secara langsung, terutama apabila proses pembelajaran dilakukan tidak di dalam kelas. Dalam hal ini dibutuhkan perantara yang lebih dikenal sebagai media.
Melihat kedudukan media dalam proses pembelajaran, maka banyak sekali fungsi yang dapat diperoleh dengan adanya media, seperti:
1. memperjelas penyajian pesan dari konsep yang abstrak ke yang konkrit.
2. mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra karena alasan:
a. Obyek terlalu besar
b. obyek yang terlalu kecil
c. kejadian masa lalu
d. obyek terlalu komplek
e. konsep terlalu luas
3. Mengatasi sikap pasif siswa:
a. menimbulkan gairah belajar
b. interaksi secara langsung antara siswa dan lingkungan
c. siswa belajar mandiri
4. Mengatasi perbedaan dan pengalaman yang berbeda
5. Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh
Pada saat ini banyak kita temukan media pembelajaran yang berbeda dengan pada masa lalu. Berdasarkan jenisnya, media pembelajaran dibedakan menjadi:
1. Media Asli dan Media Tiruan
a. Specimen makhluk yang masih hidup:
– akuarium dengan ikan dan tumbuhan
– terracium hewan darat dan tumbuhan
– kebun binatang
– kebun percobaan
b. Specimen makhluk yang sudah mati
– tumbuhan yang sudah dikeringkan
– hewan yang sudah dikeringkan
– kulit hewan yang dikeringkan/ taksidermi

c. Specimen dari benda tak hidup
– batu
– mineral
d. Benda Asli yang bukan makhluk hidup
– kereta api
– radio
– pesawat dll.
2. Media Grafis:
Media grafis adalah ringkasan informasi dengan lukisan, sketsa, kata-kata, symbol,
gambar yang mendekati bentuk aslinya. Media grafis antara lain berupa:
a. Media Bagan (Chart)
– bagan pohon
– akar
– dahan
b. Media Grafik (Grafik Diagram) untuk penyajian data
– Grafik Bidang (padat)
– Grafik Batang (Balok)
– Grafik Gambar
– Grafik Peta
– Grafik Garis
c. Poster
d. Karikatur
e. Media Gambar
f. Media Komik
g. Media Gambar Bersambung
3. Media Bentuk Papan:
a. Papan Tulis
b. Papan Tempel
c. Papan Pameran
4. Media Sorot
a. Sorot Diam
b. Sorot Bergerak
5. Media Dengar (radio, tape recorder)
6. Media Pandang Dengar (televisi, komputer)
7. Media Cetak (Printed Materials)
a. Buku
b. Leaflet
c. Komik
d. Folder
Banyaknya media pembelajaran memudahkan sekaligus menyulitkan kita dalam menetukan pemilihan media mana yang akan kita pakai dalam proses pembelajaran. Namun setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita pertimbangkan dalam menentukan penggunaan media dalam proses pembelajaran, agar media yang kita pilih betul-betul sesuai dengan kebutuhan. Prinsip dasar pemilihan media antara lain:
1. Setiap media memiliki lebihan dan kelemahan
2. Pilihlah media yang memang sangat diperlukan
3. Penggunaan media harus dapat mempelakukan siswa secara aktif
4. Sebelum media digunakan harus direncanakan secara matang dalam penyusunan
rencana pelajaran
5. Hindari penggunaan media yang hanya dimaksudkan sebagai selingan atau sekedar
pengisi waktu kosong
6. Harus senantiasa dilakukan persiapan yang cukup sebelum penggunaan media
Selain harus memperhatikan prinsip-prinsip di atas, dalam pemilihan media pembelajaran kita juga harus memperhatikan kriteria yang ada, seperti:
1. Tujuan Pembelajaran
a. Kognitif
b. Afektif
c. Psikomotor
2. Sasaran Pengguna
a. Karakteristik
b. Jumlah
c. Latar belakang
3. Biaya
Biaya yang diperlukan dengan menggunakan media tertentu harus diperhitungkan
apakah terlalu mahal atau terlalu murah untuk disesuaikan dengan tujuan yang
diharapkan
4. Ketersediaan
Media yang akan kita gunakan sudah tersedia atau belum, buat sendiri atau harus beli
5. Kemampuan Media
Media yang kita pilih apakah akan digunakan untuk belajar individual, kelompok kecil,
kelompok besar atau massa
Jika media yang kita pilih belum ada di pasaran maka kita harus berfikir untuk membuatnya. Namun pembuatan media harus mempertimbangkan:
1. Pilih jenis materi yang diperlukan: (apakah video, animasi, teks, dan lain-lain)
2. Keterkaitan isi materi dengan tujuan & aktivitas pembelajaran
3. Materi tidak ketinggalan jaman
4. Materi cukup lengkap, jelas & mudah dipahami oleh siswa
5. Hal-hal yang berkaitan dengan hak cipta
Dalam membuat media, syarat yang harus dipenuhi adalah:
1. Visible (mudah dilihat)
2. Interesting (menarik)
3. Simple (sederhana)
4. Useful (bermanfaat)
5. Accurate (benar)
6. Legitimate (sah, masuk akal)
7. Structure (terstruktur)
Sebelum proses pengadaan media dilakukan, maka sebaiknya kita lakukan analisis kebutuhan media lebih dulu. Berikut contoh lembar analisis kebutuhan media:

Setelah analisis desain media kita buat, selanjutnya kita buat desian pembuatan media dengan format sebagai berikut:
Desain Pembuatan Media Pembelajaran
Mata Pelajaran : IPS-Geografi
Kelas/ Semester : IX/2
Kompetensi Dasar : 1.1 Kemampuan mendeskripsikan Proses Sosialisasi
Materi Pembelajaran : Proses Sosialisasi
Jenis media yang dipilih : VCD/Film
Rancangan media : Membuat film tentang Proses Sosialisasi
Bahan yang diperlukan : -Handycam/camera digital/handphone berkamera
-Komputer
-VCD Player
-CD
Langkah-langkah pembuatan:-Merekam gambar/membuat film
-Mentransfer gambar ke dalam komputer
-Mengedit gambar
-Mengisi suara/narasi ke dalam gambar yang telah diedit
-Mengkopi gambar ke dalam CD
Penerapan dalam pembelajaran:
– Siswa melihat film
– kemudian mendiskusikan sesuai dengan bahan diskusi
yang diberikan oleh guru

D. Blog Sebagai Sumber dan Media Pembelajaran
Jika kita baca uraian di atas, maka Blog yang merupakan barang baru dalam dunia teknologi, sepertinya tidak salah apabila dijadikan sebagai salah satu alternatif pilihan sumber dan media pembelajaran. Blog yang dibuat oleh seorang guru dapat diisi berbagai hal yang berkaitan dengan bidang tugasnya, seperti::
1. Makna UUD 1945 dalam dunia pendidikan dan Undang-Undang Sisdiknas
2. Kurikulum yang berlaku saat ini
3. Silabus yang telah disesuaikan dengan kebutuhan
4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
5. Catatan selama proses pembelajaran. Catatan ini dapat dijadikan bahan penyusunan
Karya Ilmiah
6. Bahan ajar yang disesuaikan dengan mata pelajaran yang diampu
7. Contoh soal untuk latihan siswa
8. Kuis yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diajarkan
dan hal-hal lain yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Semua yang ditayangkan dalam Blog seorang guru, selain dapat dijadikan sumber belajar dalam proses pembelajaran, juga dapat dijadikan media yang menghubungkan siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Bahkan dengan Blog tersebut, guru tidak hanya dapat melaksanakan E-Learning (pembelajaran dengan media elektronika) tetapi bahkan juga mampu melaksanakan M-learning (Mobile Learning), yakni sistim pembelajaran yang dapat dilakukan di manapun melalui media Hand Phone dan sejenisnya yang terhubung dengan jaringan internet. Apabila sudah ada kesepakatan dengan siswa tentang media ini, maka kita akan lebih mudah melaksanakan proses pembelajaran. Bahkan pengumuman hasil ulanganpun dapat disampaikan melalui Blog. Namun demikian apabila siswa merasa terganggu dengan ditayangkannya nilai hasil ulangan di dalam Blog, maka kita tidak usah melakukannya. Oleh karena itu sebelum media ini digunakan, maka alangkah baiknya jika ada kesepakatan lebih dulu. Melalui pembiasaan seperti ini, kita akan dibiasakan dengan budaya terbuka. Hal ini dapat melatih sedikit demi sedikit kebiasaan siswa untuk terbiasa menerima kenyataan tentang hasil belajarnya, yang merupakan alat evaluasi terhadap usaha yang harus dilakukan kemudian.
Apabila ada waktu luang, alangkah baiknya jika seorang guru mulai melirik media ini sebagai sumber dan media dalam proses pembelajaran.
Selamat Ngeblog ….!!!!
Selamat jadi Guru Go-Blog ………

DAFTAR PUSTAKA
Djumali, H. 2008. Modul Perencanaan Pembelajaran. Surakarta: Laboratorium
Microteaching 1 FKIP UMS.
Mulyasa, E. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
———2005.Bahan Diklat Jenjang Dasar Guru Geografi SMP Tingkat Nasional. Malang
http://Pengertian Bahan Ajar « CARI ILMU ONLINE BORNEO.htm
http://wikipedia.org/wiki/blog.htm
http://www.missevi.wordpress.com

Read Full Post »


Ilutrasi

            John seorang mahasiswa tingkat satu di suatu universitas. Ia sangat gemar membaca baik bahan kuliah, iptek, pengetahuan umum, novel, cerita bersambung, cerpen dan sebagainya. Ia tidak habis mengerti, mengapa para penulis atau pengarang begitu pandai bercerita lewat tulisan atau karangan yang runtut, menarik dan mengesankan. Ia juga banyak mendengar dari teman-temannya yang pandai menulis atau mengarang bahwa honorariumnya cukup lumayan sebagai tambahan biaya hidup. Yah, sebagai seorang mahasiswa dari keluarga yang kurang berada, maka “imbalan” yang didengarnya cukup menggiurkan.

            “Ah, kalau seandainya aku bisa menulis, pasti aku tak usah minta kiriman uang. Kasihan ortu. Mereka sangat lelah,” angannya.

            John ternyata tidak hanya berangan-angan. Ia wujudkan angan-anganya dengan perbuatan. Ia pergi ke perpustakaan, diskusi dan wawancara dengan para pakar. Ia juga melahap buku-buku yang membahas cara menulis dan mengarang.

            ”Ah, rasanya sih mudah menulis,” pikirnya. Aku tinggal membuat ide – yang sebetulnya sudah bertimbun dalam otakku –, menulis tema, pokok pikiran, judul, kerangka tulisan, mencari bahan dan menulis.” ”Ah, gampang,” batinnya.

            Iapun mulai mencari bahan-bahan tulisan yang ia harapkan dapat mendukung tulisan yang hendak ia buat. Setelah bahan tulisan tersedia, iapun mulai menulis. Namun, begitu pena menyentuh kertas, setumpuk ide yang ada dalam otaknya tidak mau keluar. Macet!

            ”Ah, kenapa seret amat,” keluhnya. Ia coba dan coba sampai akhirnya ia putus asa dan berhenti menulis.

            ”Ah, barangkali aku tidak bakat,” pikirnya.

—–000—–

 

            Bakat barangkali sangat mendukung seseorang untuk menjadi penulis atau pengarang yang baik. Namun tanpa latihan, mustahil seseorang akan bisa menjadi seorang penulis atau pengarang. Pada hemat saya, kemampuan menulis lebih banyak ditentukan oleh latihan yang intensif. Banyak diantara kita yang berhenti menulis pada tahap awal seperti John. Ketika penanya seret, mereka berhenti menulis serta menganggap bahwa mereka tidak berbakat.

            Sebenarnya, langkah-langkah yang ditempuh oleh John sudah benar. Ia belajar terlebih dahulu teori atau tuntunan menulis, baru setelah memahaminya ia mencari bahan untuk ditulis. Ia juga telah mencoba menulis berulang kali. Namun ia merasa gagal. Padahal ia belum cukup banyak berlatih. Einstein bilang: “Jika anda telah gagal  sepuluh ribu kali maka cobalah lagi barangkali pada yang ke sepuluh ribu satu kali anda berhasil.” Ya, kita harus mempunyai motivasi yang kuat untuk berlatih terus sampai sukses menjemput kita.

            Ada langkah yang barangkali cukup praktis. Jika anda merasa pena sudah mulai seret, berhentilah menulis. Simpan tulisan itu dan kemudian baca ulang tulisan itu pada kesempatan yang lain. Anda  akan melihat berbagai kelemahan dan kekurangan tulisan anda. Jika anda sudah tahu kekurangan tulisan itu, saya yakin anda akan mengetahui cara untuk memperbaikinya. Sebagai langkah awal, anda bisa menulis apa saja, asal sesuai dengan tema yang telah ditentukan. Hal ini sangat penting, untuk menjaga agar pena anda tidak seret kembali, dan agar berbagai ide dalam otak anda bisa dituangkan ke dalam tulisan. Baru setelah selesai, anda bisa mengoreksi draft kasar sampai tulisan itu anda nilai sudah baik. Draft terakhir sebaiknya dibaca oleh teman anda. Sebab seringkali kita sudah menilai bahwa tulisan kita sangat sempurna, setelah dibaca oleh orang lain ternyata masih banyak bolong-bolongnya.

 

Pemilihan Tema

            Tema merupakan pokok masalah yang akan diuraikan dalam sebuah tulisan. Tema harus ditentukan sebelum mulai mengarang. Tanpa tema, tidak akan dihasilkan tulisan yang baik. Tema dapat diperoleh dari berbagai sumber, seperti pengalaman, hasil penelitian, survei, pengamatan, wawancara, kreasi imajinatif dll. Karangan-karangan narasi, deskripsi biasanya bersumber dari sumber-sumber tersebut. Akan tetapi tulisan argumentatif atau persuasi umumnya bersumber dari pendapat dan sikap penulis.

            Agar terhindar dari kesulitan memperoleh tema, beberapa hal harus diperhatikan, antara lain:

  1. selalu menambah pengalaman, banyak melihat, mendengarkan, membaca, berdiskusi, mengalami sendiri berbagai peristiwa.
  2. selalu rajinmengamati sesuatu yang terjadi di sekitar kita atau membaca buku, jurnal, majalah, koran yang merupakan hasil pengamatan/penelitian orang lain.
  3. selalu mengembangkan imajinasi dan kreativitas.
  4. sering mengadakan diskusi dan tukar-menukar pendapat untuk melatih mengemukakan pendapat dan mempertahankannya dengan argumentasi dan contoh yang baik dan tepat serta memperluas cakrawala berpikir.

 

Untuk menghasilkan sebuah tulisan yang berbobot, penulis harus memilih tema yang menarik, memungkinkan untuk digarap, ruang lingkup yang tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit, dan hangat. Coba anda bandingkan tema-tema di bawah ini:

  1. Curah hujan di Indonesia vs Curah hujan di pulau Jawa
  2. Sejarah seni lukis di Indonesia vs Seni lukis di zaman kemerdekaan
  3. Perkembangan Islam vs Sebabnya Islam cepat tersiar
  4. Pembangunan di Indonesia vs Pembangunan ekonomi pada Pelita III
  5. Pengaruh kebijakan 15 Nopember 1978 terhadap masyarakat vs Pengaruh kebijakan 15 Nopember 1978 terhadap usaha kerajinan rotan di Amuntai
  6. Perkembangan pers di Indonesia vs Perkembangan pers di Indonesia ditinjau dari segi kebebasannya.

Sering kita mendapatkan tema, ide atau gagasan secara tiba-tiba. Bisa ketika kita membaca, bisa ketika kita melihat sesuatu, atau bisa  seketika atau bahkan dalam mimpi. Kilasan-kilasan ide atau gagasan atau tema sering mudah kita lupakan. Jika hal itu tidak segera kita tangkap, maka mereka akan segera menghilang dari pikiran kita. Oleh sebab itu, ide-ide tersebut harus segera dicatat. Adalah hal yang menarik jika ide-ide itu kita dokumentasikan dalam sebuah buku ide. Sewaktu-waktu kita dapat mengingat kembali ide-ide kita yang dituangkan ke dalam sebuah buku. Kita tinggal memilih ide atau tema mana yang kita nilai sangat menarik  bagi pembaca, dan mulailah kita menulis. Menulis dan menulis, sebagai wahana latihan tanpa mengenal lelah dan putus asa.

 

Kerangka Tulisan

            Setelah menentukan tema, langkah berikutnya adalah membuat kerangka tulisan. Kerangka tulisan ini sangat penting untuk memandu tahapan menulis agar tidak menyimpang dari tema. Kerangka tulisan ini selain sangat berguna bagi penulis pemula, juga berguna untuk menghindari kemungkinan terlupa dan bermanfaat untuk mengkaji sekali lagi point-point yang penting itu secara kritis.

            Ada beberapa macam tipe susunan kerangka tulisan antara lain:

  1. Berdasarkan urutan kronologis. Susunan kerangka diatur menurut susunan waktu kejadian peristiwa yang hendak diuraikan.
  2. Berdasar urutan lokal. Susunan kerangka diatur menurut susunan lokal (ruang/tempat) dari obyek yang hendak diuraikan.
  3. Berdasar urutan klimaks. Susunan kerangka diatur menurut jenjang kepentingannya.
  4. Berdasar urutan familiaritas. Susunan kerangka diatur menurut dikenal-tidaknya bahan yang akan diuraikan.
  5. Berdasar urutan akseptabilitas. Susunan kerangka diatur menurut diterima-tidaknya prinsip yang dikemukakan.
  6. Berdasar urutan kausal. Susuanan kerangka diatur menurut hubungan sebab-akibat.
  7. Berdasar urutan logis. Susunan kerangka diatur menurut aspek umum dan aspek khusus.
  8. Berdasar urutan apresiatif. Susunan kerangka diatur menurut pemilikan buruk-baik, untung-rugi, berguna-tidak berguna, benar-salah, dst.

Untuk bisa membuat kerangka tulisan yang baik, diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:

1.      Mencatat di atas kertas segala gagasan yang timbul dari perkiraan, atau  yang dikumpulkan dari sumber-sumber yang ada hubungan dengan tema yang telah dirumuskan.

2.      Kemudian, mulailah gagasan-gagasan tadi diatur, diorganisasi dan disitematisasikan.

3.      Mengkaji sekali lagi gagasan-gagasan yang telah dikelompokkan dalam bab-bab dan pasal-pasal.

4.      Membuat kerangka tulisan yang lengkap dan terperinci yang sudah bebas dari coretan-coretan. Dalam tahap ini dicantumkan tema, judul dan pokok pikiran yang mendasari kerangka tulisan tersebut.

 

Contoh:

Tema: Bermahasiswa yang benar.

Pokok pikiran: Menjadi mahsiswa bukan untuk menaikkan status sosial atau untuk tujuan-tujuan lain, melainkan untuk belajar lebih banyak dan lebih intens sebagai bekal menghadapi masa depan bangsa.

Kerangka tulisan

Pendahuluan (Masih banyak diantara mahasiswa belum menyadari dengan baik untuk apa sebenarnya dia menjadi mahasiswa)

I. Motivasi masuk perguruan tinggi

            A. Untuk memperoleh status sosial yang tinggi

            B. Untuk menghindari menjadi penganggur

            C. Untuk mengembangkan kemampuan diri

II. Karakteristik perguruan tinggi

            A. Antara perguruan tinggi dengan sekolah lanjutan

            B. Perguruan tinggi sebagai simbol peradaban bangsa

III. Mahasiswa yang ideal

            A. Selalu melipatgandakan usaha studi

            B. Selalu melatih diri dalam keterampilan memimpin

 

            Beberapa persyaratan membuat kerangka tulisan antara lain:

  1. Kerangka harus mengandung pokok-pokok yang cukup mendalam.
  2. Kerangka harus disusun secara cermat dan logis.
  3. Kerangka yang baik, pokok-pokok yang sejajar harus diberi nomor atau huruf yang sejenis. Dalam membuat kerangka tulisan tidak boleh ada pembagian yang pincang.

 

Pemilihan Judul

            Setelah menentukan tema, pokok pikiran dan kerangka tulisan, langkah selanjutnya adalah membuat judul. Judul, selain harus menarik perhatian pembaca, juga harus mencerminkan tema tulisan. Hal ini sangat penting artinya bagi pembaca. Setelah pembaca tertarik terhadap judul yang terpampang di majalah atau koran, maka ia ingin segera tahu apa isinya. Pembaca akan kecewa jika isi yang ditulis ternyata tidak sesuai atau semenarik sebagaimana judulnya.

            Menarik bukan berarti bombastis. Judul-judul yang bombastis sekilas memang menarik perhatian pembaca. Akan tetapi pembaca akan segera kecewa ketika membaca isi tulisan tersebut. Sebab judul yang bombastis itu biasanya tidak mencerminkan isi tulisan yang dibahas. Betapa sering kita dikecewakan oleh judul-judul buku yang seperti ini. Membaca judul dan sinopsis buku yang biasanya ditulis di kover belakang kita sering tertarik untuk membelinya. Akan tetapi, ketika setelah sampai di rumah dan membacanya kita menjadi sangat kecewa. Demikian pula ketika kita membaca koran atau majalah atau tulisan apapun, sering dikecewakan oleh judul yang bombastis tetapi isinya tidak relevan.

            Perhatikan juduljudul di bawah ini.

1. Aerodynamika msyarakat serangga

            Ternyata hanya  membahas cara terbang serangga.

2. Razzia penduduk sungai

            Ternyata bercerita tentang orang cari ikan

3. Hotel internasional di Teluk Banten

Ternyata berceritera tentang suaka burung

4. Klinik bersalin masyarakat ikan

            Ternyata berisi sarang ikan dan cara menetaskan telur.

 

            Judul-judul tersebut memang sangat menarik, namun bisa jadi pembaca sangat kecewa karena isinya tidak seperti yang dibayangkan oleh pembaca sewaktu membaca judul.

            Contoh-contoh berikut ini merupakan contoh-contoh judul yang kurang  baik dan berkesan membosankan dan melelahkan.

  1. Setiap empat jam ada orang ditabrak trem di Betawi
  2. Varietas-varietas atau strain-strain ikan mas dan masalahnya dalam pemuliaan.
  3. Perlu kita perhatikan adanya serangan penyakit pada tanaman kacang tanah, terutama becak dan belang daun.

Judul-judul tersebut di atas dapat diperbaiki sebagai berikut:

  1. Tiap empat jam ada orang ditabrak trem
  2. Masalah strain ikan mas dalam pemuliaan
  3. Perlu perhatian terhadap serangan penyakit pada kacang tanah

Judul sebaiknya juga tidak terlalu pendek. Mungkin judul-judul pendek hanya sesuai  pada karangan seperti novel, cerpen, puisi dll. Jika anda ingin tetap menggunakan judul pendek karena hal tersebut dapat mencerminkan sesuatu bahasan yang hendak anda tonjolkan, maka judul pendek itu bisa dibuat, dengan catatan menambah sebjudul di bawahnya.

Contoh:

1. Sapi Bali

            Riwayat penciptaan dan cara peternakannya

2. Daun Katuk

            Sebagai obat pelangsing tubuh yang manjur

3. Bulu entok

            Sebagai bahan pembuatan bola bulu tangkis

4. Kijing Taiwan

            Benar-benar menyelundup ke Indonesia

 

            Untuk membuat judul, sebelumnya kita membuat synopsis, agar diperoleh gambaran keseluruhan isi artikel, kemudian membuat paling sedikit 3 judul. Di bawah ini merupakan ringkasan proses pembuatan judul.

 

Tabel 1. Proses pembuatan judul

No.

Tema

Sinopsis

Judul

1.

Dengan pupuk majemuk kita melipatgandakan hasil bumi dalam rangka partisipasi dalam pembangunan

a. Arti dan jenis pupuk majemuk

b. Pengaruhnya terhadap tanaman pangan

c. Cara pemakaiannya

1. Gunakan pupuk majemuk demi suksesnya pembangunan

2. Arti, pengaruh dan cara pemakaian pupuk majemuk

3. Pupuk majemuk

* Pengaruh dan pemakaiannya bagi peningkatan hasil tanaman

2.

Penggunaan jaring trawl yang benar, dalam peningkatan pemanfaatan sumber ikan demersal yang hidup di dekat dasar laut

a. Pengertian ikan demersal dan daerah penyebarannya

b. Cara penangkapan ikan demersal dengan jaring trawl

1. Jaring trwal

2. Ikan demersal dan cara penangkapannya yang benar dengan jaring trawl

3. Penangkapan ikan dasar dengan jaring trawl

 

Pendahuluan

            Setelah pembaca tertarik dengan judul yang anda tampilkan, maka pembaca akan segera melirik ke pendahuluan. Mereka mengharapkan membaca sesuatu yang menarik sesuai dengan persepsi pembaca ketika membaca judul. Minat membaca akan menurun atau meningkat tergantung dari sajian dalam pendahuluan. Oleh karena itu, sub-pendahuluan perlu mendapat perhatian  yang serius. Dalam tulisan populer dan ilmiah populer, anda tidak perlu menulis ”Pendahuluan” untuk menunjukkan sub-bagian pendahuluan sebagaimana dalam tulisan ilmiah. Anda langsung saja menulis apa yang akan anda kemukakan dalam sub-bagian pendahuluan itu.

            Ada tujuh macam bentuk pendahuluan, yang dapat kita pilih yaitu:

1. Ringkasan. Pendahuluan berbentuk ringkasan ini nyata-nyata mengemukakan topik dan poko isi tulisan secara garis besar.

2. Pernyataan yang menonjol. Kadang-kadang disebut juga pendahuluan kejutan. Biasanya diikuti dengan kalimat kekaguman.

3. Pelukisan. Pendahuluan yang melukiskan suatu fakta, kejadian atau hal.

4. Anekdot.

5. Pertanyaan. Pendahuluan berbentuk pertanyaan yang merangsang keingintahuan merupakan pendahuluan yang bagus.

6. Ktipan orang lain. Pendahuluan berupa kutipan ucapan seseorang (tentunya orang terkenal) dapat langsung menyentuh rasa pembaca.

7. Amanat langsung. Pendahuluan berbentuk amanat (pesan) langsung kepada pembaca sehingga terasa akrab.

            Bagian pendahuluan mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai pemancing minat dan mengatur pembaca ke arah pembahasan. Hal terakhir ini sering kali lebih sulit daripada menulis judul atau isi. Seringkali kita mengalami kesulitan sehingga kita menjadi kesal dan putus asa. Jika anda mengalami hal ini, maka langkah yang sebaiknya dilakukan adalah menunda dulu bagian pendahuluan iniu dan menulis bagian lain, misalnya isi tulisan. Baru setelah dirasa bisa melanjutkan, anda dapat menulis pendahuluan kembali. Seringkali pendahuluan mengalami perubahan berulangkali untuk memperoleh alinea pendahuluan yang dapat memancing minat.

            Misalnya contoh proses pembuatan judul dan alinea pendahuluan di bawah ini.

Konsep awal:

PERGANTIAN KELAMIN DAN CARA BETERNAK BELUT

            Ikan belut yang kita kenal enak dagingnya itu ternyata mempunyai cara hidup yang aneh. Kalau muda berupa betina semua, dan kalau tua berganti kelamin menjadi jantan semua. Dalam tulisan  di bawah ini akan dikemukakan tingkah laku mereka dalam perkawinan, dan cara beternak mereka di kolam air tawar.

            Setelah konsep ditulis ulang, alinea pembuka itu menjadi:

SKANDAL SEKS KAUM BELUT

            Sebagai ikan buas yang suka berlindung dalam sarang penyamunnya, lindung atau belut menarik perhatian, karena skaldal seksnya. Kalau masih muda mereka menikmati hidup sebagai juwita belut betina, maka setelah tua mereka berganti kelamin menikmati Sorga Dunia untuk kedua kalinya sebagai Don Juan belut jantan.

            Tingkah lakunya yang aneh dalam perkawinan, antara lain membentuk sarang busa, kita pakai untuk mengambil tindakan teknis dan cara beternak mereka di kolam air tawar.

            Revisi ini mungkin bukan tulisan akhir, karena barangkali perlu dicekulang lagi. Bila  anda merasa revisi itu sudah baik dan tidak tahu lagi   bagian mana yang perlu direvisi, maka ada baiknya anda minta tolong kepada teman anda untuk membacanya. Biasanya teman anda akan lebih jeli dalam melihat kelemahan tulisan anda.

            Tidak selamanya usaha membuat pendahuluan demikian dapat berhasil, terutama jika sinopsis artikel yang bersangkutan tidak menarik. Dalam hal ini, pendahuluannya sebaiknya kita susun berupa sari yang disarikan dari sinopsis yang paling menonjol dan menarik perhatian.

            Misalnya contoh sebagai berikut:

Judul                                                    MENUJU TENAGA SURYA

Novelty lead                 Kali ini seorang presiden pun naik ke atap rumah dalam rangka

Usaha melawan krisis energi. Cina memasak dengan tenaga matahari.

Tapi listrik tenaga surya masih mahal harganya. Diharapkan makin

murah, nanti menjelang tahun 2000.

 

Tubuh utama                 Mungkin bsru ksli ini seorang Presiden Amerika Serikat naik ke

                        Atap Gedung Putih. Ini terjadi ketika Jimmy Carter meresmikan

pemakaian alat pemasak air yang menggunakan tenaga matahari

tanggal 20 Juni 1979 yang lalu. (Dan seterusnya).

 

            Cara lain untuk memancing minat baca ialah mengingatkan seseorang (pembaca) kepada kejadian serupa, atau juga berupa dongeng, kisah atau cerita yang familiar dari orang lain.

            Misalnya contoh sebagai berikut;

Judul                            AIR  KELAPA

                                    . 1000 liter sehari terbuang

                                    . Siapa yang mau ikut memanfaatkannya?

Pendahuluan                 Air kelapa yang pertama kali kita dengar ialah air kelapa Ki

                        Ageng Giring dalam Babad Tanah Jawi dulu. Kata sahibulhikayat, kelapa

yang dipetiknya di atas pohon diringi oleh suara gaib yang mengiang di

telinganya: ”Pengumuman! Barang siapa yang bisa minum air kelapa

’yang ini’ sekaligus dalam satu tarikan, ia akan menurunkan raja-raja

Mataram!”

 

Isi Tulisan

            Pada alinea atau kalimat terakhir dari pendahuluan sangat dianjurkan merupakan alinea atau kalimat penghubung antara pendahuluan dan isi tulisan. Hal  ini perlu diperhatikan agar pembaca tidak merasa ada sesuatu yang hilang sewaktu membaca isi utama  tulisan anda. Jika tidak ada kalimat penghubung, seolah-olah pembaca diajak melompat sehingga terasa mengganjal.

            Untuk menghindari pembaca cepat bosan, maka isi utama tulisan sebaiknya dibagi ke dalam sub-sub. Sub-sub ini juga perlu dipilih kata-kata yang menarik tanpa meninggalkan maknanya. Memang cukup sulit. Untuk mengtasi hal ini, maka pertama-tama tulis dahulu sub yang sesuai walaupun belum terasa menarik. Cara ini adalah untuk memandu jalannya tulisan yang sedang disusun. Baru setelah sub-sub tersusun, kita dapat memeriksanya kembali.

            Etelah judul sub dibuat, kita mulai menulis pikiran, gagasan, fakta dll. sesuai dengan judul sub tersebut. Agar sub-sub menarik, maka harus  dibuat alinea-alinea yang menarik, berkesinambungan dan dinamis serta cepat berpindah tepat pada waktunya. Dengan adanya alinea-alinea, pembaca akan tahu, suatu gagasan pokok dimulai dan diakhiri, serta kemudian berpindah ke gagasan berikutnya. Dengan demikian, pembaca dapat dengan mudah menelusuri anak-anak tangga tanpa kesulitan.

 

Contoh alinea yang baik:

            Sebagai ikan buas, para kakap jelas tidak cocok untuk dipelihara dalam tambak bersama ikan bandeng dan udang, karena terang mereka akan menghabiskan benih bandeng dan udang, yang sangat berharga.

            Tetapi di India, ikan kakap justru sengaja dipelihara dalam tambak juga, meskipun dengan pemberian makanan tambahan berupa udang kerdil setengah mati. Sedangkan di Muangthai, ikan kakap dipelihara dengan pemberian makanan berupa ikan rucah sebangsa teri.

 

            Dari contoh di atas, jelas bahwa sebuah alinea yang menarik harus beruntut atau berkesinambungan. Namun alinea yang beruntun saja masih belum tentu enak dibaca. Harus pula diusahakan agar tiap kalimat dalam alinea itu merupakan irama yang teratur.

Contoh: Pikiran masih jernih, dan badan masih segar

            Berikut contoh alinea yang kalimatnya tidak berirama:

            Praktis semua orang tua mengetahui bahwa kebiasaan caranya memakan sirih adalah suatu etiket pergaulan resmi yang pada jaman dahulu kala tidak semua orang menguasainya, bilamana ingin diterima di kalangan para pembesar dan para raja-raja.

 

            Alinea itu dapat disusun kembali dan terasa lebih berirama sebagai berikut:

            Praktis semua orang tua tahu, bagaimana cara makan sirih. Yaitu menggoyang-goyangkan rahang menguyah daun sirih, kapur dan pinang, kemudian menyumbat mulut dengan segumpal tembakau. Susur, namanya.

            Pada jaman dahulu, semua orang yang akan menghadiri rapat para pembesar sipil dan militer harus memakan sirih. Waktu itu, kebiasaan ini merupakan etiket yang harus dikuasai oleh semua orang, bila ingin diterima di kalangan mereka.

 

            Alinea yang tidak dinamis akan membuat sebuah alinea terasa lamban.

Contoh dan perbaikannya (?)

 

Penutup

            Sebagaimana pendahuluan, maka kata penutup sebagai isyarat penutup sebuah tulisan tidak dicantumkan pada tulisan populer. Penutup ini dapat berupa alinea terakhir dari sebuah tulisan. Penutup biasanya bergaya pamit. Gaya pamit itu biasanya cukup dihasilkan dengan menyelipkan kata demikian, jadi, maka, akhirnya atau kalimat pertanyaan.

 

Contoh ?

 

Format Tulisan

            Agar tulisan kita bisa dimuat di suatu majalah, koran, jurnal atau yang sejenisnya, kita harus memperhatikan format dan bahasa media masa tersebut. Kalau anda perhatikan, setiap media masa biasanya mempunyai format tulisan dan gaya bahasa yang berbeda. Bahkan, kadangkala kualitas bahasa dari suatu media masa akan menunjukkan bobot media masa tersebut. Untuk itu, anda harus menyesuaikan dengan gaya bahasa media masa tersebut. Jika anda merasa belum mampu, maka anda dapat memilih media masa yang belum mempunyai bentuk dan gaya bahasa.

 

Persiapan Naskah

            Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam mempersiapkan naskah. Betapapun bagusnya tulisan kita, mungkin sekali setelah sampai di meja redaksi langsung dibuang ke tong sampah. Mengapa? Alasannya sederhana! Naskah kotor!

 

Daftar Pustaka

 

Banjarnahor, G. 1994. Wartawan Freelance: Panduan menulis artikel untuk media cetak dan elektronik. Ghalia Indonesia, Jakarta.

 

Brotowidjoyo, M. D. 1995. Penulisan Karangan Ilmiah. Edisi Kedua. Akademika Pressindo. Jakarta.

 

Haryanto, A. G. 2000. Penelusuran pustaka. Dalam: Metode Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah (Haryanto, A. G., H. Ruslijanto dan D. Mulyono ed.). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

 

Haryanto, A. G., H. Ruslijanto, D. Mulyono. 2000. Metode Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah. Penebit Buku Kedokteran, Jakarta.

 

Lindsay, D. 1988. A Guide to Scientific Writing.  (Penerjemah S. S. Achmadi). UI-Press, Jakarta.

 

Manalu, W. 1999. Penulisan artikel ilmiah pada jurnal ilmiah internasional. Makalah Pelatihan Penatar Penulisan Artikel Ilmiah di Perguruan Tinggi, DIKTI, Jakarta.

 

Mullins, C. J. 1980. The Complete Writing Guide to Preparing Reports, Proposals, Memos, Etc. Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs, NJ.

 

Nafiah, A. H. 1981. Anda Ingin Jadi Pengarang? Usaha Nasional, Surabaya.

 

Purbo-Hadiwidjojo, M. M. 1993. Menyusun Laporan Teknik. Penerbit ITB, Bandung.

 

Purwoko, A. 2006. Mencari dan merumuskan topik penelitian. Disampaikan pada Pelatihan Peningkatan Kemampuan Menulis Karya Ilmiah, Jurusan Sosial Ekonomi, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu, Bengkulu.

 

 

Rifai, M. A. 1995. Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan dan Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia. UGM Press, Yogyakarta.

 

Santoso, U. 1998. Penyusunan penulisan ilmiah populer. Pelatihan penulisan ilmiah populer bagi mahasiswa, Bengkulu.

 

Soeseno, S. 1984. Teknik Penulisan Ilmiah Populer. PT Gramedia, Jakarta.

 

Wiradi, G. 1996. Etika Penulisan Karya Ilmiah. Akatiga. Bandung.

[1] Ketua Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan, dan Ketua Pembina Penalaran Mahasiswa Universitas Bengkulu.


Read Full Post »