Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘IPTEK’ Category


Sekhah Efiaty, S.Pd.

Pada saat hari ulang tahunku tiba-tiba temanku mengajak melihat tayangan video lewat komputer yang dihubungkan dengan LCD. Mulanya kukira video tentang film tertentu. Tanpa disangka yang muncul adalah rangkaian fotoku yang ditampilkan menjadi video. Betapa banggaku ke temanku itu. Di balik itu langsung muncul ide kapan aku harus membuat produk semacam itu, hingga suatu saat akhirnya bisa juga produk itu kuhasilkan. Ternyata itu hasil kerja dari yang namanya Movie Maker.

Windows movie maker merupakan software bawaan Windows XP , Windows Vista, dan Windows 7, biasanya terinstal secara langsung saat menginstal windows xp service pack 2. Jika dikomputer belum terinstal bisa download di situs microsoft atau disini download windows movie maker portable . Software ini bisa digunakan untuk membuat koleksi foto anda menjadi sebuah video clip yang dilengkapi dengan background lagu. Beberapa software profesional yang bisa digunakan untuk mengedit video adalah Pinaccle dan Ulead Video Studio , dll. Prosedur untuk membuat video dari foto:

1. Siapkan beerapa file foto format jpg atau bmp

2. Siapkan lagu mp3 untuk jadi background video clip Windows movie maker memiliki keterbatasan, tidak dapat mengenali file audio atau lagu mp3 . Agar lagu mp3 dapat disisipkan maka harus dikonversi ke format wav, bisa dilhat panduannya disini konversi mp3 menjadi wav

3. Buka aplikasi windows movie maker Pilih Import pictures , masukkan gambar atau foto

4. Di task window pilih gambar macan kemudian Ctrl+A untuk memilih otomatis semua gambar Klik kanan kemudian pilih Add to Storyboard

5. Tambahkan video effects Ada beberapa cara a. secara manual pilih efek yang ada di task window kemudin drag ke story board satu persatu b. pilih semua gambar yg ada di storyboard (gunakan Ctrl+A untuk memilih otomatis semua gambar) Klik kanan di video efek yang ada di task window pilih add to storyboard (lihat gambar langkah 4)

6. Video transition Ada beberapa cara a. secara manual pilih video transisi yang ada di task window kemudian drag ke story board satu persatu b. pilih semua gambar yg ada di storyboard (gunakan Ctrl+A untuk memilih otomatis semua gambar) Klik kanan di video transitions yang ada di task window pilih add to storyboard (lihat gambar langkah 4)

7. Selanjutnya import audio or music , bisa dilihat panduannya disini Memasukkan lagu ke video clip

8. Tambahkan title dan kredit

9. Klik Save to my computer untuk menyimpan file video clip. Ikuti saja option defaultnya, Kemudian Next -next hingga finish.

 

Sumber:

http://artikelkomputerku.blogspot.com/2010/12/cara-membuat-video-dari-foto-membuat.html

Iklan

Read Full Post »


Jepang (日本国 ), materi ini aslinya dalam bentuk power point, akan tetapi untuk melindungi hak cipta yang membuat dan sebagai bentuk apresiasi kami terhadap hasil karya siswa maka kami tayangkan dalam bentuk pdf

 

Read Full Post »


Sekhah Efiaty, S.Pd.

Berawal dari pengalaman mengajar di dalam kelas dimana kami ingin memberikan tugas kepada siswa yang hasilnya menarik. Dengan penuh percaya diri kami menyarankan siswa untuk mengerjakan tugasnya menggunakan program Movie Maker yang sudah kami lakukan. Namun apa tanggapan para siswa dengan tugas ini, ternyata siswa mengusulkan untuk tugasnya agar boleh diselesaikan dengan program yang lebih baru. Program tersebut adalah Ulead. Karena itulah kami sebagai guru langsung penasaran dan ingin mencoba program yang ternyata sudah dikuasai siswa lebih dahulu.

Video Editing menggunakan Ulead Video Studio 9

Ulead Video Studio dapat digunakan untuk video editing, dimulai dari memasukkan data video yang berasal dari handycam, camera digital, handphone dsb, hingga melakukan proses burning ke cd untuk dapat dimainkan di video player. Ulead Video Studio termasuk video editor yang mudah digunakan dan mempunyai fitur-fitur yang lengkap untuk pembuatan video.

Menjalankan Ulead VideoStudio

Setelah menjalankan program, tampilan pertama kali adalah tampilan pilihan model video editing. Untuk saat ini digunakan pilihan VideoStudio Editor dengan cara mengklik pada link-nya.

DV to DVD Wizzard pilihan ini dapat digunakan untuk meng-capture, menambahkan theme didalamnya, dan membakar dalam bentuk CD/DVD

Movie Wizard pilihan ini dapat digunakan untuk meng-capture, mengedit video dengan mudah dan cepat, dan membakar dalam bentuk CD/DVD

VideoStudio Editor pilihan ini dapat digunakan untuk mengedit video secara mandiri, dari menambahkan clips, effect, title, audio hingga menjadi film, dan membakar dalam bentuk CD/DVD

1. Step Panel
Terdiri dari 7 step atau langkah dalam mengedit movie

2. Menu Bar
Terdiri dari file menu, edit menu, clip menu dan tool menu

3. Options Panel
Panel yang berisi option untuk merubah setingan dari film maupun efek. Option bersifat dinamis tergantung panel atau step yang sedang aktif

4. Preview Windows
Tampilan yang sedang diproses, clip, video filter, effect atau title.

5. Navigation Panel
Tombol-tombol yang digunakan untuk memainkan file movie.

6. Library
Tumbnail dari file movie, video, efek atau image yang sudah di upload ke galery. Dinamis mengikuti panel yang sedang aktif.

7. Timeline
Tempat menaruh movie yang akan di edit. Storyboard view, timeline view dan sound. Untuk timeline view terbagi menjadi track. Video track, overlay track, tittle track, voice track dan music track.

8. Tombol Mark–in, Mark Out, Enlarge, Cut
Untuk menandai awal, akhir, membesarkan dan memotong klip. Secara garis besar ada 7 langkah dalam menggunakan Ulead VideoStudio, di mana tiap langkah mewakili dari tiap tombol yaitu
1.  Capture
2.  Edit
3.  Effect
4.  Overlay
5.  Tittle
6.  Audio
7.  Share

Langkah 1 : Capture

Untuk memulai proyek mengedit video, langkah pertama adalah mengcapture video atau memindahkan video dari tape/cassete ke dalam komputer. Klik pada tombol capture. Kemudian pilih capture video,

Duration : Lama capture yang dilakukan.Source : Sumber alat, apakah dari handycam atau dari alat lain.

Capture Folder : folder tempat file movie hasil capture berada, pilih folder di drive yang masih banyak space kosongnya.

Format : Format file hasil capture yang dilakukan. Untuk membuat film vcd dapat dipilih format vcd/mpeg1 untuk membuat file dvd dapat dipilih format dvd/mpeg2 sedangkan kalau ingin mengolah file dengan hasil yang maksimal dapat memilih format dv. Jenis format tergantung dengan kamera yang digunakan. Jika menggunakan kamera handycam yang masih menggunakan video 8 sebaiknya dicapture menggunakan format vcd/mpeg sedangkan kalau mengcapture dari kamera yang sudah menggunakan Mini DV bisa capture dengan format dvd/dv. Jenis file format juga mempengaruhi ukuran dari file movie hasil capture. Sebagai ilustrasi untuk 1 jam capture menggunakan file vcd/mpeg ukurannya sekitar 600-700 MB, sedangkan dengan menggunakan format DVD atau DV bisa sampai 8 – 10 GB.

Jika proses capture sudah selesai, klik tombol stop capture. Otomatis file hasil capture sudah ada di gallery

Langkah 2 : Edit

Setelah selesai mengcapture video, langkah selanjutnya adalah mengedit video tersebut. Klik pada edit.

Reverse Video, untuk memainkan video dari belakangRotate, untuk merotate video 90 derajat searah jarum jam atau sebaliknya

Color correction, untuk mengatur contras, hue dan sebagainya

Playback Speed, di gunakan untuk mesetting cepat/lambatnya kecepatan klip

Save as still Image, digunakan untuk menyimpan klip sebagai image/gambar

Split By Scene,  Untuk memecah video menjadi beberapa klip kecil bisa menggunakan split by scene.

Multi Trim Video, untuk memotong video atau menghilangkan bagian tertentu

Untuk memasukan video yang akan di edit drag dari tumbnail yang ada di galery ke Storyboard view. Storyboard view, untuk mempermudah pengorganisasian klip.

Untuk melihat keseluruhan frame dari video klip yang sudah, masuk timeline view

Apabila ingin menambahkan efek pada klip video yang dimasukan, dengan cara klik pada gallery video filter, kemudian drag efek dari gallery ke video klip yang akan diberikan efek. Untuk melihat efek yang dimasukan dapat dilihat pada attribute.

Replace Last Filter, untuk menghapus filter yang ada dengan filter yang terakhir dipilih.Customize Filter, untuk memilih filter dari daftar filter yang tersedia, sedangkan untuk menghapus filter dengan mengklik tanda silang disamping.

Distort Clip, untuk merubah ukuran

Show Grid Line, untuk menampilkan garis-garis jejaring sebagai bantuan dalam mengatur ukuran

Masukan beberapa klip video selanjutnya masuk ke langkah 2. Untuk memotong klip geser jog ke posisi yang akan dipotong, kemudian klik tombol cut (gunting). Untuk menghapus klip video dari storyboard view maupun timeline viev klik pada klip yang akan dihapus kemudian klik tombol del di keyboard.

Sumber:

http://adf.ly/651111/banner/http://tutorialku.info/191/tutorial-video-editing-menggunakan-ulead-video-studio

Read Full Post »


Sekhah Efiaty, S.Pd.

Penelitian Tindakan Kelas merupakan catatan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Catatan ini penting kita miliki agar proses pembelajaran menjadi bermutu. Mulai dari merencanakan proses pembelajaran, pelaksanaannya, evaluasi, sampai analisis hasil evaluasi. Apabila setelah di analisis ternyata hasil evaluasi belum menunjukkan hasil yang diharapkan maka ada kemungkinan terdapat kekurangan atau kesalahan pada salah satu faktor dalam proses pembelajaran tersebut. Setelah mengetahui adanya ketidakberesan ini, kita tidak boleh diam atau mendiamkan masalah yang ada. Kita wajib mengadakan koreksi untuk kemudian ditemukan sumber permasalahnnya. Apabila sumber permasalahan sudah kita temukan maka kita akan membuat rencana baru untuk pelaksanaan proses pembelajaran pada tahap selanjutnya. Begitu seterusnya sampai pembelajaran benar-benar mencapai hasil yang ditargetkan. Bila perlu pengulangan ini dilakukan tidak hanya satu kali tapi bisa lebih dari itu sampai hasil proses pembelajaran benar-benar memuaskan. Sederet catatan inilah yang sebenarnya merupakan tindakan kelas yang sehat dan kondusif dan boleh dikatakan sebagai upaya penelitian tindakan kelas.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. Inti gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin McTaggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan sebagainya.

PTK di Indonesia baru dikenal pada akhir dekade 80-an. Oleh karenanya, sampai dewasa ini keberadaannya sebagai salah satu jenis penelitian masih sering menjadikan pro dan kontra, terutama jika dikaitkan dengan bobot keilmiahannya.

Jenis penelitian ini dapat dilakukan didalam bidang pengembangan organisasi, manejemen, kesehatan atau kedokteran, pendidikan, dan sebagainya. Di dalam bidang pendidikan penelitian ini dapat dilakukan pada skala makro ataupun mikro. Dalam skala mikro misalnya dilakukan di dalam kelas pada waktu berlangsungnya suatu kegiatan belajar-mengajar untuk suatu pokok bahasan tertentu pada suatu mata kuliah. Untuk lebih detailnya berikut ini akan dikemukan mengenai hakikat PTK.

Menurut John Elliot bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya (Elliot, 1982). Seluruh prosesnya, telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dari perkembangan profesional. Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart, yang mengatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta–pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart, 1988).

Menurut Carr dan Kemmis seperti yang dikutip oleh Siswojo Hardjodipuro, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah PTK adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan (guru, siswa atau kepala sekolah) dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan yang dilakukan dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktik-praktik ini, dan (c) situasi-situasi ( dan lembaga-lembaga ) tempat praktik-praktik tersebut dilaksanakan (Harjodipuro, 1997).

Lebih lanjut, dijelaskan oleh Harjodipuro bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut dan agar mau utuk mengubahnya. PTK bukan sekedar mengajar, PTK mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar, dan menggunakan kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri untuk bersiap terhadap proses perubahan dan perbaikan proses pembelajaran. PTK mendorong guru untuk berani bertindak dan berpikir kritis dalam mengembangkan teori dan rasional bagi mereka sendiri, dan bertanggung jawab mengenai pelaksanaan tugasnya secara profesional.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, jelaslah bahwa dilakukannya PTK adalah dalam rangka guru bersedia untuk mengintropeksi, bercermin, merefleksi atau mengevalusi dirinya sendiri sehingga kemampuannya sebagai seorang guru/pengajar diharapkan cukup professional untuk selanjutnya, diharapkan dari peningkatan kemampuan diri tersebut dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas anak didiknya, baik dalam aspek penalaran; keterampilan, pengetahuan hubungan sosial maupun aspek-aspek lain yang bermanfaat bagi anak didik untuk menjadi dewasa.

Dengan dilaksanakannya PTK, berarti guru juga berkedudukan sebagai peneliti, yang senantiasa bersedia meningkatkan kualitas kemampuan mengajarnya. Upaya peningkatan kualitas tersebut diharapkan dilakukan secara sistematis, realities, dan rasional, yang disertai dengan meneliti semua “ aksinya di depan kelas sehingga gurulah yang tahu persis kekurangan-kekurangan dan kelebihannya. Apabila di dalam pelaksanaan “aksi” nya masih terdapat kekurangan, dia akan bersedia mengadakan perubahan sehingga di dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya tidak terjadi permasahan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar-mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Sementara itu, dilaksanakannya PTK di antaranya untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau pangajaran yang diselenggarakan oleh guru/pengajar-peneliti itu sendiri, yang dampaknya diharapkan tidak ada lagi permasalahan yang mengganjal di kelas.

Sumber:

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/21/penelitian-tindakan-kelas-part-ii/

Read Full Post »


Sekhah Efiaty, S.Pd.

OSN Manado 2011 ditutup dengan acara pengumuman peraih medali untuk 8 bidang OSN tingkat SMA bertempat di Hall Hotel Grand Kawanua, Manado, Sulawesi Utara, Kamis (15/9) malam. Bidang Kebumian memperebutkan 30 medali yang terdiri atas 5 emas, 10 perak, dan 15 perunggu. Selain itu, diberikan penghargaan khusus berupa Best Geology, Best Astronomy, dan Best Meteo-Hidrologi, untuk siswa-siswi yang memperoleh nilai terbaik di bidang geologi, astronomi, dan meteo-hidrologi.

Akhirnya, terpilihlah Bintang Rahmat Wananda (SMAN 8 Jakarta) sebagai peraih emas pertama beserta Best Meteo-Hidrologi, Ahmad Faizal Amin (SMAN 2 Kediri) sebagai peraih emas kedua sekaligus Best Geology, serta Ratika Benita Nareswari (SMA Dwi Warna) sebagai emas ketiga dan Best Astronomy. Medali emas juga diraih oleh M. Chandra (SMAN 48 Jakarta) dan Putri Rafika Dewi (SMAN 1 Pati).

Perolehan medali kebumian didominasi oleh peserta-peserta dari pulau Jawa seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan DKI, dan juga luar Jawa yang sering meraih medali kebumian seperti Gorontalo dan Riau. Namun tahun ini Provinsi Jambi berhasil menembuskan perwakilannya atas nama Hendragguna Wijaya (SMA Titian Teras Jambi) yang berhasil meraih perunggu.

Hal yang menakjubkan dari OSN Kebumian yang rata-rata diikuti oleh siswa SMA, di antara 90 finalis yang ada, dua di antaranya yang memperoleh medali  perunggu adalah siswa SMP. Mereka adalah Aditya Hirawan dan M. Ridwan Dzikrurrokhim. Keduanya adalah siswa SMP Negeri 5 Yogyakarta. Pada saat mengikuti seleksi tingkat kota dan Provinsi yang sebagian besar pesertanya adalah siswa SMA, mereka masih terdaftar sebagai siswa SMP. Mereka terlihat canggung karena mengenakan seragam putih biru. Apalagi banyak di antara siswa SMA yang merupakan kakak kelas saat di SMP.

Ridwan, Drs. Suparno, M.Pd., Adit, Bu Evi

Ridwan, Drs. Suparno, M.Pd., Adit, Bu Evi

Pada saat seleksi tingkat nasional di Manado, Aditya Hirawan maupun Ridwan sudah menjadi siswa SMA. Namun di Manado mereka masih terdaftar sebagai finalis dari SMP Negeri 5 Yogyakarta. Mereka sangat terkejut ketika dinyatakan sebagai peraih medali perunggu. Semoga perjuangan keduanya menjadi motivasi bagi adik-adik kelasnya. Kami warga sekolah sangat bangga kepada Adit dan Ridwan. Mudah-mudahan di kemudian hari keduanya semakin sukses.

Read Full Post »


Sekhah Efiaty, S.Pd.

Undang-undang  RI  Nomor 14  tahun 2005  tentang  Guru  dan  Dosen, mempersyaratkan  guru  untuk:  (1)  memiliki  kualifikasi  akademik  minimumS1/D4; (2)  memiliki  kompetensi sebagai  agen  pembelajaran  yaitu kompetensi  pedagogik,  kepribadian,  sosial,     dan     profesional;  dan    (3) memiliki     sertifikat  pendidik.     Dengan  berlakunya  Undang-undang  ini diharapkan  memberikan  suatu  kesempatan  yang  tepat  bagi  guru    untuk meningkatkan  profesionalismenya   melalui  pelatihan,  penulisan  karya ilmiah,    pertemuan  di  Kelompok  Kerja  Guru     (KKG),  dan  pertemuan  di Musyawarah  Guru  Mata  Pelajaran  (MGMP).  Dengan  demikian  KKG  dan MGMP   memiliki   peran   penting   dalam   mendukung   pengembangan profesional guru.

Buku Standar Pengembangan dan Operasional Pelaksanaan  KKG/MGMP

Untuk   mewujudkan   peran   KKG   dan   MGMP   dalam   pengembangan profesionalisme guru, maka peningkatan kinerja kelompok kerja guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran  (MGMP) merupakan masalah yang mendesak untuk dapat direalisasikan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan  kinerja  KKG  dan  MGMP,  antara  lain  melalui  berbagai pelatihan instruktur dan guru inti, peningkatan sarana dan prasarana, dan peningkatan  mutu  manajemen  KKG/MGMP.  Namun  demikian,  berbagai indikator   mutu   pendidikan   belum   menunjukkan   peningkatan   kinerja KKG/MGMP  yang  berarti. Di beberapa  daerah menunjukkan peningkatan kinerja KKG/MGMP yang cukup menggembirakan, namun sebagian besar lainnya masih memprihatinkan. Berdasarkan  masalah  ini,  maka  diperlukan  analisis  yang  mendalam mengenai rendahnya kinerja KKG/MGMP. Dari berbagai pengamatan dan analsis, sedikitnya ada empat faktor yang menyebabkan kinerja KKG/MGMP tidak mengalami   peningkatan secara merata.

Faktor pertama, kebijakan dan penyelenggaraan KKG/MGMP menggunakan pendekatan education production function atau input-output analysis yang  tidak  dilaksanakan  secara  konsekuen.  Pendekatan  ini  melihat  bahwa KKG/MGMP berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input  (masukan) yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut, maka lembaga ini akan menghasilkan output yang dikehendaki. Pendekatan ini menganggap bahwa apabila input KKG/MGMP seperti pelatihan guru dan perbaikan sarana dan prasarana lainnya dipenuhi, maka peningkatan kinerja KKG/MGMP  (output)  secara  otomatis  akan  terjadi.  Dalam  kenyataan, peningkatan kinerja KKG/MGMP yang diharapkan tidak terjadi. Mengapa? Karena  selama  ini  dalam  menerapkan  pendekatan  education  production function terlalu memusatkan pada input pendidikan dalam hal ini guru yang mengikuti kegiatan KKG/MGMP  dan  kurang memperhatikan  pada proses kinerja.  Padahal,  proses  kinerja  sangat  menentukan  output  kegiatan KKG/MGMP.

Faktor kedua, penyelenggaraan KKG/MGMP yang dilakukan masih belum dapat  melepaskan  dari  sistem  birokrasi  pemerintah  daerah,  sehingga menempatkan KKG/MGMP sebagai wadah pengembangan profesionalisme guru masih tergantung pada keputusan birokrasi yang mempunyai jalur yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan   kebutuhan   guru   setempat.   Dengan   demikian KKG/MGMP kehilangan kemandirian, motivasi dan insiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya   termasuk   peningkatan   profesionalisme   guru sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan nasional.

Faktor ketiga, akuntabilitas kinerja KKG/MGMP selama ini belum dilakukan dengan   baik. Pengurus KKG/MGMP tidak memiliki   beban   untuk  mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan kegiatannya kepada sesama rekan guru, pimpinan sekolah, dan masyarakat.

Faktor keempat, belum adanya panduan/petunjuk kegiatan kelompok kerja yang jelas untuk dapat digunakan sebagai acuan bagi guru dan pengurus KKG/MGMP   dalam melakukan aktivitas kelompok kerja atau musyawarah kerja.

Berdasarkan  kenyataan-kenyataan  tersebut  di  atas,  tentu  saja  perlu dilakukan   upaya-upaya   perbaikan,   salah   satunya   adalah   melakukan revitalisasi  penyelenggaraan  KKG/MGMP  melalui  penyusunan  panduan penyelenggaraan  KKG/MGMP dalam    bentuk: (1) Buku Standar Pengembangan KKG/MGMP dan (2) Buku Standar   Operasional Pelaksanaan  KKG/MGMP.

Diharapkan    dengan  adanya panduan pelaksanaan KKG/MGMP  ini kegiatan-kegiatan kelompok kerja guru dan musyawarah kerja mata pelajaran dapat lebih terarah dan dapat dijadikan wadah  untuk  pengembangan  profesionalisme  guru  secara  mandiri  dan berkelanjutan.

==============

Jika Anda ingin mengunduh materi buku tersebut silahkan klik yang ini

Sumber:

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/10/25/standar-penyelenggaraan-kkg-mgmp/

– Direktorat Profesi Pendidik, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan    Nasional. 2008. Standar Pengembangan  Kelompok Kerja Guru/KKG-Musyawarah Guru Mata Pelajaran/MGMP. Jakarta

Read Full Post »


Sekhah Efiaty, S.Pd.

Salah satu prinsip penilaian pada kurikulum berbasis kompetensi adalah menggunakan acuan kriteria, yakni menggunakan kriteria tertentu dalam menentukan kelulusan peserta didik. Kriteria paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai ketuntasan dinamakan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang seluk beluk tentang Kriteria Ketuntasan Minimal ini, Anda dapat meng-klik tautan di bawah ini: Penetapan Dalam KKM

Read Full Post »

Older Posts »