Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Psikologi’ Category


Sekhah Efiaty, S.Pd.

Kita sebagai manusia merupakan makhluk sosial (zoon politicon) yang membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, akan ada komunikasi antara orang yang satu dengan yang lainnya melalui aksi dan reaksi (interaksi). Dalam berinteraksi diperlukan adanya konsep diri yang dimiliki perorangnya. Hal ini disebabkan oleh setiap individu dalam bertingkah laku sedapat mungkin disesuaikan dengan konsep diri. Kemampuan manusia bila dibandingkan dengan mahluk lain adalah lebih mampu menyadari siapa dirinya, mengobservasi diri dalam setiap tindakan serta mampu mengevaluasi setiap tindakan sehingga mengerti dan memahami tingkah laku yang dapat diterima oleh lingkungan. Dengan demikian manusia memiliki kecenderungan untuk menetapkan nilai-nilai pada saat mempersepsi sesuatu. Setiap individu dapat saja menyadari keadaannya atau identitas yang dimilikinya akan tetapi yang lebih penting adalah menyadari seberapa baik atau buruk keadaan yang dimiliki serta bagaimana harus bersikap terhadap keadaan tersebut. Tingkah laku individu sangat bergantung pada kualitas konsep dirinya yaitu konsep diri positif atau konsep diri negatif.

Menurut Brooks dan Emmart (1976), orang yang memiliki konsep diri positif menunjukkan karakteristik sebagai berikut: (a) Merasa mampu mengatasi masalah. Pemahaman diri terhadap kemampuan subyektif untuk mengatasi persoalan-persoalan obyektif yang dihadapi. (b) Merasa setara dengan orang lain. Pemahaman bahwa manusia dilahirkan tidak dengan membawa pengetahuan dan kekayaan. Pengetahuan dan kekayaan didapatkan dari proses belajar dan bekerja sepanjang hidup. Pemahaman tersebut menyebabkan individu tidak merasa lebih atau kurang terhadap orang lain. (c) Menerima pujian tanpa rasa malu. Pemahaman terhadap pujian, atau penghargaan layak diberikan terhadap individu berdasarkan dari hasil apa yang telah dikerjakan sebelumnya. (d) Merasa mampu memperbaiki diri. Kemampuan untuk melakukan proses refleksi diri untuk memperbaiki perilaku yang dianggap kurang.

Sedangkan orang yang memiliki konsep diri yang negatif menunjukkan karakteristik sebagai berikut: (a) Peka terhadap kritik. Kurangnya kemampuan untuk menerima kritik dari orang lain sebagai proses refleksi diri. (b) Bersikap responsif terhadap pujian. Bersikap yang berlebihan terhadap tindakan yang telah dilakukan, sehingga merasa segala tindakannya perlu mendapat penghargaan. (c) Cenderung merasa tidak disukai orang lain. Perasaan subyektif bahwa setiap orang lain disekitarnya memandang dirinya dengan negatif. (d) Mempunyai sikap hiperkritik. Suka melakukan kritik negatif secara berlebihan terhadap orang lain. (e) Mengalami hambatan dalam interaksi dengan lingkungan sosialnya. Merasa kurang mampu dalam berinteraksi dengan orang-orang lain.

Sumber :

http://duniapsikologi.dagdigdug.com/2010/04/23/

Brooks, W.D., Emmert, P. Interpersonal Community. Iowa. Brow Company Publisher. 1976

Iklan

Read Full Post »


Sekhah Efiaty, S.Pd.

Penelitian Tindakan Kelas merupakan catatan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Catatan ini penting kita miliki agar proses pembelajaran menjadi bermutu. Mulai dari merencanakan proses pembelajaran, pelaksanaannya, evaluasi, sampai analisis hasil evaluasi. Apabila setelah di analisis ternyata hasil evaluasi belum menunjukkan hasil yang diharapkan maka ada kemungkinan terdapat kekurangan atau kesalahan pada salah satu faktor dalam proses pembelajaran tersebut. Setelah mengetahui adanya ketidakberesan ini, kita tidak boleh diam atau mendiamkan masalah yang ada. Kita wajib mengadakan koreksi untuk kemudian ditemukan sumber permasalahnnya. Apabila sumber permasalahan sudah kita temukan maka kita akan membuat rencana baru untuk pelaksanaan proses pembelajaran pada tahap selanjutnya. Begitu seterusnya sampai pembelajaran benar-benar mencapai hasil yang ditargetkan. Bila perlu pengulangan ini dilakukan tidak hanya satu kali tapi bisa lebih dari itu sampai hasil proses pembelajaran benar-benar memuaskan. Sederet catatan inilah yang sebenarnya merupakan tindakan kelas yang sehat dan kondusif dan boleh dikatakan sebagai upaya penelitian tindakan kelas.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperkenalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. Inti gagasan Lewin inilah yang selanjutnya dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin McTaggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan sebagainya.

PTK di Indonesia baru dikenal pada akhir dekade 80-an. Oleh karenanya, sampai dewasa ini keberadaannya sebagai salah satu jenis penelitian masih sering menjadikan pro dan kontra, terutama jika dikaitkan dengan bobot keilmiahannya.

Jenis penelitian ini dapat dilakukan didalam bidang pengembangan organisasi, manejemen, kesehatan atau kedokteran, pendidikan, dan sebagainya. Di dalam bidang pendidikan penelitian ini dapat dilakukan pada skala makro ataupun mikro. Dalam skala mikro misalnya dilakukan di dalam kelas pada waktu berlangsungnya suatu kegiatan belajar-mengajar untuk suatu pokok bahasan tertentu pada suatu mata kuliah. Untuk lebih detailnya berikut ini akan dikemukan mengenai hakikat PTK.

Menurut John Elliot bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya (Elliot, 1982). Seluruh prosesnya, telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dari perkembangan profesional. Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart, yang mengatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta–pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart, 1988).

Menurut Carr dan Kemmis seperti yang dikutip oleh Siswojo Hardjodipuro, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah PTK adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan (guru, siswa atau kepala sekolah) dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan yang dilakukan dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktik-praktik ini, dan (c) situasi-situasi ( dan lembaga-lembaga ) tempat praktik-praktik tersebut dilaksanakan (Harjodipuro, 1997).

Lebih lanjut, dijelaskan oleh Harjodipuro bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut dan agar mau utuk mengubahnya. PTK bukan sekedar mengajar, PTK mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar, dan menggunakan kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri untuk bersiap terhadap proses perubahan dan perbaikan proses pembelajaran. PTK mendorong guru untuk berani bertindak dan berpikir kritis dalam mengembangkan teori dan rasional bagi mereka sendiri, dan bertanggung jawab mengenai pelaksanaan tugasnya secara profesional.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, jelaslah bahwa dilakukannya PTK adalah dalam rangka guru bersedia untuk mengintropeksi, bercermin, merefleksi atau mengevalusi dirinya sendiri sehingga kemampuannya sebagai seorang guru/pengajar diharapkan cukup professional untuk selanjutnya, diharapkan dari peningkatan kemampuan diri tersebut dapat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas anak didiknya, baik dalam aspek penalaran; keterampilan, pengetahuan hubungan sosial maupun aspek-aspek lain yang bermanfaat bagi anak didik untuk menjadi dewasa.

Dengan dilaksanakannya PTK, berarti guru juga berkedudukan sebagai peneliti, yang senantiasa bersedia meningkatkan kualitas kemampuan mengajarnya. Upaya peningkatan kualitas tersebut diharapkan dilakukan secara sistematis, realities, dan rasional, yang disertai dengan meneliti semua “ aksinya di depan kelas sehingga gurulah yang tahu persis kekurangan-kekurangan dan kelebihannya. Apabila di dalam pelaksanaan “aksi” nya masih terdapat kekurangan, dia akan bersedia mengadakan perubahan sehingga di dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya tidak terjadi permasahan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis reflektif terhadap berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru yang sekaligus sebagai peneliti, sejak disusunnya suatu perencanaan sampai penilaian terhadap tindakan nyata di dalam kelas yang berupa kegiatan belajar-mengajar, untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan. Sementara itu, dilaksanakannya PTK di antaranya untuk meningkatkan kualitas pendidikan atau pangajaran yang diselenggarakan oleh guru/pengajar-peneliti itu sendiri, yang dampaknya diharapkan tidak ada lagi permasalahan yang mengganjal di kelas.

Sumber:

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/21/penelitian-tindakan-kelas-part-ii/

Read Full Post »


Sekhah Efiaty, S.Pd.

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON – Seorang balita perempuan berusia tiga tahun tinggal selama dua hari setelah ditinggal mati mendadak oleh ibunyadi rumah mereka di Selandia Baru. Ia mencari kenyamanan dari mainan kesukaannya dan melahap keju, lasagna sisa, dan susu.

Shylah Silbery

Shylah Silbery

Shylah Silbery, nama balita ini, mencari sendiri makanan di dalam kulkas dengan hanya ditemani boneka beruang Teddy Bear yang dinamainya ‘Possum’ setelah ibunya, Lauren Silbery yang berusia 28 tahun, meninggal dunia.

Komunikasi terakhir keluarga dengan Lauren Silbary terjadi pada 19 Oktober. Dua hari kemudian, karena tiada berkabar, keluarga mencemaskan keadaan Silbery dan anaknya. Mereka pun menghubungi tetangga Lauren untuk mencari tahu. Tetangga yang memeriksa keadaan rumah, hanya bisa melihat Shylah kecil tanpa terlihat keberadaan Lauren.

Polisi yang datang belakang membujuk Shylah untuk menyeret meja kopi ke depan pintu agar dirinya bisa meraih kunci dan membuka kunci pintu. Kepada polisi, Shylah hanya berkata, “Mama tidak mau bangun.”

Polisi kemudian segera membawa Shylah ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan selama beberapa hari. Sekalipun menderita dehidrasi dan popok bayi yang lama tidak diganti, keadaan Sylah dilaporkan tidak mengkhawatirkan.

Sumber:

http://id.berita.yahoo.com/balita-ini-tinggal-dua-hari-bersama-ibunya-yang-093927310.html

Read Full Post »


Sekhah Efiaty, S.Pd.

Drilling Soal merupakan salah satu Model Pembelajaran yang sering dilakukan oleh guru. Konten materi yang diberikan dalam Drill Soal adalah materi yang sudah diberikan pada pertemuan sebelumnya maupun materi yang akan diberikan pada pertemuan berikutnya.

Sifat dari Drill Soal bisa termasuk Pretes maupun Postes. Bersifat Pretes apabila Drill Soal diberikan sebelum siswa menerima materi yang sesuai soal, sedangkan bersifat Postes apabila Drill Soal diberikan setelah siswa menerima materi yang sesuai soal. Baik bersifat Pretes maupun Postes, Drill Soal memiliki fungsi diagnostik untuk mengetahui kemampuan pemahaman dan kecepatan belajar  siswa. Soal yang dibuat untuk Drill Soal bersifat singkat tanpa banyak uraian dan sederhana, merupakan penerapan dan kesimpulan, dan isi materi sifatnya dasar, ringkas atau pra-syarat dalam mempelajari materi sebelumnya maupun selanjutnya. Meskipun menekankan aspek kognitif, bukan berarti Drill Soal boleh mengabaikan aspek afektif ataupun tanpa aspek psikomotorik sama sekali.

Skrip model drill memiliki  langkah sebagai berikut :

  1. Pendahuluan, berisi Identitas Mata Pelajaran, identitas programer, judul pokok materi pelajaran, petunjuk atau langkah pembelajaran yang harus ditempuh dalam bentuk petunjuk pengerjaan soal-soal latihan
  2. Pokok Materi, disajikan dalam sajian soal-soal secara terstruktur dan linier dalam bentuk soal pilihan berganda.
  3. Adanya deteksi salah benar terhadap jawaban yang diberikan siswa.
  4. Adanya respon atas jawaban benar dan salah dari jawaban yang diberikan
  5. Adanya Fasilitas (berupa icon-icon pengulangan ) untuk melakukan proses menjawab soal yang mewakili bagian materi yang disajikan.
  6. Adanya fasilitas evaluasi secara terpisah dari icon urutan soal-soal yang telah disajikan.
  7. Adanya deteksi waktu yang harus digunakan dalam menjawab setiap soal sesuai jumlah soal yang tersedia.
  8. Adanya grafik mengenai pencapaian skor dan kriteria mengulang tidaknya siswa dalam mengikuti proses latihan tersebut, yang berfungsi juga sebagai kontrol keberhasilan dan kegagalan latihan.

Sumber:

http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&q=model+drill&oq=model+drill&aq=f&aqi=g-L4&aql=&gs_sm=e&gs_upl=7085l23938l0l25010l24l24l5l2l3l0l787l4749l1.6.3.2.1.2.1l17l0&bav=on.2,or.r_gc.r_pw.&fp=6e441cb60734c732&biw=1342&bih=607

Read Full Post »


Sekhah Efiaty, S.Pd.

Definisi Komik

Komik adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita. Biasanya, komik dicetak di atas kertas dan dilengkapi dengan teks. Komik dapat diterbitkan dalam berbagai bentuk, mulai dari strip dalam koran, dimuat dalam majalah, hingga berbentuk buku tersendiri.

konsep komik dibuat oleh siswa kelas IX SBI 2 SMPN 5 Yogyakarta

Terminologi

Di tahun 1996, Will Eisner menerbitkan buku Graphic Storytelling, di mana ia mendefinisikan komik sebagai “tatanan gambar dan balon kata yang berurutan, dalam sebuah buku komik.” Sebelumnya, di tahun 1986, dalam buku Comics and Sequential Art, Eisner mendefinisikan teknis dan struktur komik sebagai sequential art, “susunan gambar dan kata-kata untuk menceritakan sesuatu atau mendramatisasi suatu ide”.

Dalam buku Understanding Comics (1993) Scott McCloud mendefinisikan seni sekuensial dan komik sebagai

juxtaposed pictorial and other images in deliberate sequence, intended to convey information and/or to produce an aesthetic response in the viewer.

Para ahli masih belum sependapat mengenai definisi komik. Sebagian diantaranya berpendapat bahwa bentuk cetaknya perlu ditekankan. Yang lain lebih mementingkan kesinambungan gambar dan teks. Sebagian lain lebih menekankan sifat kesinambungannya (sequential). Definisi komik sendiri sangat supel karena itu berkembanglah berbagai istilah baru seperti:

Untuk lingkup Nusantara, seorang penyair dari semenanjung Melayu (sekarang Malaysia) Harun Amniurashid (1952) pernah menyebut ‘cerita bergambar’ sebagai rujukan istilah cartoons dalam bahasa Inggris. Di Indonesia terdapat sebutan tersendiri untuk komik seperti diungkapkan oleh pengamat budaya Arswendo Atmowiloto (1986) yaitu cerita gambar atau disingkat menjadi cergam yang dicetuskan oleh seorang komikus Medan bernama Zam Nuldyn sekitar tahun 1970. Sementara itu Seno Gumira Ajidarma (2002), jurnalis dan pengamat komik, mengemukakan bahwa komikus Teguh Santosa dalam komik Mat Romeo (1971) pernah mengiklankan karya mereka dengan kata-kata “disadjikan setjara filmis dan kolosal” yang sangat relevan dengan novel bergambar.

Sampul Komik Perang Dunia II

Istilah cerita bergambar

Akronim cerita (ber)gambar, menurut Marcell Boneff mengikuti istilah cerpen (cerita pendek) yang sudah terlebih dahulu digunakan, dan konotasinya menjadi lebih bagus, meski terlepas dari masalah tepat tidaknya dari segi kebahasaan atau etimologis katanya.

Tetapi menilik kembali pada kelahiran komik, maka adanya teks dan gambar secara bersamaan dinilai oleh Francis Laccasin (1971) sebagai sarana pengungkapan yang benar-benar orisinal. Kehadiran teks bukan lagi suatu keharusan karena ada unsur motion yang bisa dipertimbangkan sebagai jati diri komik lainnya.

Karena itu di dalam istilah komik klasik indonesia, cerita bergambar, tak lagi harus bergantung kepada cerita tertulis. Hal ini disebut Eisner sebagai graphic narration (terutama di dalam film dan komik).

siswa kelas IX SBI 3 SMPN 5 Yogyakarta sedang mewarnai gambar untuk komiknya

Posisi komik di dalam seni rupa

Komik menurut Laccasin (1971) dan koleganya dinobatkan sebagai seni ke-sembilan. Walaupun sesungguhnya ini hanya sebuah simbolisasi penerimaan komik ke dalam ruang wacana senirupa. Bukanlah hal yang dianggap penting siapa atau apa saja seni yang kesatu sampai kedelapan.

Menurut sejarahnya sekitar tahun 1920-an, Ricciotto Canudo pendiri Club DES Amis du Septième Art, salah satu klub sinema Paris yang awal, seorang teoritikus film dan penyair dari Italia inilah yang mengutarakan urutan 7 kesenian di salah satu penerbitan klub tersebut tahun 1923-an. Kemudian pada tahun 1964 Claude Beylie menambahkan televisi sebagai yang kedelapan, dan komik berada tepat dibawahnya, seni kesembilan.

Thierry Groensteen, teoritikus dan pengamat komik Perancis yang menerbitkan buku kajian komiknya pada tahun 1999 berjudul “Système de la bande dessinée (Formes sémiotiques)” yang akan terbit tahun 2007 menjadi “The System of Comics”. Ia berbicara definisi seni kesembilan dalam pengantar edisi pertama majalah “9e Art” di Perancis. Menurutnya, yang pertama kali memperkenalkan istilah itu adalah Claude Beylie. Dia menulis judul artikel, “La bande dessinee est-elle un art?”, dan seni kesembilan itu disebut pada seri kedua dari lima artikel di majalah “Lettres et Medecins”, yang terbit sepanjang Januari sampai September 1964.

Baru kemudian pada tahun 1971, F. Laccasin mencantumkan komik sebagai seni kesembilan di majalah “Pour un neuvieme art”, sebagaimana yang dikutip oleh Marcel Boneff pada 1972 di dalam Komik Indonesia .

   

Komik dalam pembelajaran IPS

1.Membuat  Komik sebagai   Model Pembelajaran

Dalam pembelajaran di kelas, banyak sekali model pembelajaran yang dapat digunakan. Salah satu model yang dapat digunakan adalah membuat komik. Dengan membuat komik, siswa dapat lebih tertarik untuk mempelajari isi materi, terutama yang sifatnya materi hafalan. Materi hafalan merupakan materi yang sangat membosankan bagi sebagian siswa, sebagai contoh materi pada Bidang Studi IPS. Dengan membuat komik, siswa cenderung tidak cepat bosan untuk mempelajari materi tertentu. Tentunya tidak semua materi IPS mudah dibuat dalam bentuk komik. Untuk materi yang bernuansa peristiwa, ada tokoh yang terlibat maupun tempat dari suatu peristiwa tentunya lebih mudah untuk dibuat komik dari pada materi yang banyak unsur menghitung. Namun demikian bukan berarti materi hitungan tidak dapat dibuat komik.

2. Model Pembelajaran yang dapat dipadukan dengan Model Pembelajaran Membuat Komik

Setiap Model Pembelajaran memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Demikian juga dengan kekurangan dan kelebihan yang dimiliki setiap Model Pembelajaran. Ada Model Pembelajaran yang hanya dapat berdiri sendiri dalam Proses Pembelajaran, namun demikian tidak sedikit juga  Model Pembelajaran yang penerapannya dalam Proses Pembelajaran saling menyempurnakan dengan Model Pembelajaran yang lain. Model Pembelajaran yang dapat dipadukan dengan Model Pembelajaran Membuat Komik antara lain Model Pembelajaran Ceramah, Diskusi, Penugasan maupun Presentasi.

3. Langkah-langkah Membuat Komik IPS

Ada banyak hal yang dapat dilakukan sebelum para siswa Membuat Komik IPS. Beberapa hal di bawah ini dapat dilakukan untuk Membuat Komik IPS, dan tidak menutup kemungkinan apabila ditambahkan dengan kegiatan lainnya.

a. Langkah yang paling awal dilakukan tentunya langkah umum yang biasa dilakukan oleh guru dalam membuka Proses Pembelajaran. Langkah ini wajib dilakukan karena merupakan upaya menarik perhatian siswa sehingga siswa siap melakukan Proses Pembelajaran. Setelah mengecek kehadiran siswa, guru mulai memberikan informasi indikator apa yang harus dicapai siswa setelah selesai melakukan Proses Pembelajaran. Setelah itu barulah seorang guru memberikan apersepsi yang menggiring siswa ke arah materi yang akan dibahas dalam Proses Pembelajaran saat itu.

Seorang siswa sedang memimpin dalam membentuk kelompok belajar

b.   Alangkah baiknya jika Membuat Komik IPS dilakukan secara berkelompok. Oleh karena itu, buatlah kelompok-kelompok siswa untuk Membuat Komik IPS. Setelah terbentuk kelompok-kelompok maka masing-masing kelompok diberi materi

c. Setelah menerima materi, tiap kelompok diberi kesempatan untuk berdiskusi. Biasanya pada tahap ini semua anggota kelompok akan membaca materi yang menjadi jatah kelompoknya. Diskusi dapat dilakukan di manapun yang penting guru dapat mengontrolnya. Pada umumnya siswa lebih memilih di teras kelas sehingga mereka merasa lebih leluasa.

d. Untuk memudahkan dan menghemat waktu, setiap anggota kelompok diberi tugas sesuai dengan kesepakatan dan kemampuan mereka, misal ada yang bertugas menulis cerita (karena tulisannya dianggap paling rapih dan mudah dibaca), ada ysng bertugas menggambar (karena dianggap paling bisa menggambarkan tokoh sesuai karakter tokoh yang terlibat), ada yang bertugas mewarnai gambar (karena dianggap paling jago dalam memadupadankan warna) dan lain sebagainya.

e. Setelah masing-masing anggota kelompok memperoleh tugas maka mereka akan asyik untuk menyelesaikan tugasnya.

f. Setelah masing-masing kelompok mampu menyelesaikan Membuat Komik, maka tiap-tiap kelompok harus menunjukkan isi komiknya dengan berbagai cara. Hal ini tergantung dari kesepakatan sebelumnya antara guru dengan siswa. Komik bisa langsung dijilid untuk kemudian ditunjukkan kepada teman-teman guna saling menyempurnakan. Apabila dengan cara ini, maka setiap kelompok yang mendapatkan masukan dari kelompok lain harus siap untuk merevisi.

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Komik

Read Full Post »


 
 Erik EriksonAKA Erik Homburger Erikson

Born: 15-Jun1902
Birthplace: Frankfurt am Main, Germany
Died: 12-May1994
Location of death: Harwich, MA
Cause of death: unspecified

Gender: Male
Religion: Jewish
Race or Ethnicity: White
Sexual orientation: Straight
Occupation: Psychologist

Nationality: United States
Executive summary: Eight Stages of Childhood

Erik Erikson was an influential and pioneering psychologist, psychoanalyst, and author whose theory of the eight psychosocial stages of development profoundly shaped the field of child development. Although his best-known work is the now classic Childhood and Society (1950), additional facets of his theory were elaborated in such works as Identity: Youth and Crisis (1968) and Young Man Luther (1958). Gandhi’s Truth (1969), which focused more on his theory as applied to later phases in the life cycle, garnered Erikson the Pulitzer Prize and the National Book Award. Although highly original, Erikson’s work shows heavy influences from the work of Sigmund and Anna Freud, as well as from the field of cultural anthropology.

Erik Erikson was born in Frankfurt, Germany on June 15, 1902 to Karla Abrahamsen, a young Jewish woman. Although married, she was living her family at the time of the birth, having moved in after leaving her husband, Valdemar Salomonsen. A Jewish stockbroker, Salomonsen had fled the country four years earlier in connection with fraud and criminal ties. Karla Abrahamsen had engaged in an extramarital affair in his absence and become pregnant. She never disclosed the specific identity of her son’s biological father, merely that he was of Danish extraction. She listed her son’s surname as “Salomonsen”. Four months later, word arrived that she was newly a widow; Valdemar Salomonsen was dead.

Abrahamsen trained as a nurse and eventually remarried, when young Erik was about three years old. Erik’s new stepfather was his pediatrician, Theodor Homburger. Homburger, who insisted on being referred to as Erik’s father, conferred his surname on the boy in 1908 and finally adopted him in 1911. Despite this it became apparent, with the arrival of three half sisters, that Erik held a very different place in the family as the adopted stepson. Throughout adolescence he increasingly identified as an outsider, both within and in the local community. He was teased at school for being Jewish, and at synagogue for being tall and blond. His stepfather refused to accept his intense artistic inclinations.

When Erik finished gymnasium, he refused to go to medical school (as his stepfather wished) and abandoned home to enroll in Baden State Art School. A year later, he took experimented with travel. Ultimately, he ended up in Vienna where, among other things, he painted children’s portraits. A friend, Peter Blos, recommended that Erik expand on this by tutoring and teaching art at a school run by Dorothy Burlingham, a friend of Anna Freud, daughter and intellectual heir of the famed Sigmund Freud. The Hietzing School, as it was called, was organized along psychoanalytic principles, and many of the students were the children of Freud’s patients and friends.

Seeing Erikson’s skill with children, Anna Freud began mentoring him. (Note that he was actually still Erik Homburger at the time). His training, which included regular psychoanalytic sessions with Ms. Freud, resulted in a certificate from the Vienna Psychoanalytic Society. At the same time he attended classes at the University of Vienna, and also earned his teaching degree and a certificate in the Montessori method. He continued to teach, to become more involved in psychoanalysis. He also became married to Joan Serson a dance teacher at the Hietzing School. Eventually, economic pressures and the rise of the Nazis prompted the couple, which now had two sons, to move to Copenhagen, and then to the U.S.

Erikson’s initial efforts to set up shop in the U.S. as a child psychoanalyst were at first stymied by his lack of an advanced degree. So he worked for a time as an assistant professor and research assistant at Harvard and Yale. He took some graduate level courses, but ultimately it was his ties with members of the Vienna Psychoanalytic Society that won him professional acceptance. He moved to the San Francisco Bay area, and took a position as a research associate and a lecturer at the University of California at Berkeley. Soon he was able to start his practice, at last, eventually becoming an important member of the bay area’s psychoanalytic community, and even serving as president of the San Francisco Society and Institute in 1950.

Meanwhile he had applied for U.S. citizenship, which was granted in 1939, and he had legally changed his last name to Erikson. Supposedly the named choice was influenced by his eldest son who liked the idea of continuing the Scandinavian tradition of being bearing the father’s name as part of the surname. However there is some very slight indication that “Erik” may have been the name of his own biological father as well.

More significantly, it was during his period at Berkeley that Erikson began his groundbreaking research into childhood and childrearing among the Lakota and the Yurok tribes. Influenced both by the work of cultural anthropologists like Franz Boas, Ruth Benedict, Margaret Mead, and Gregory Bateson, as well as by the theories of Sigmund Freud and his own experience with psychoanalysis, Erikson began formulating his own highly fertile and original viewpoint on child development.

He stayed in many ways true to the psychoanalytic assumptions grounded in Sigmund Freud, but there were differences as well. He accepted Freudian notions such as the ego and the Oedipal complex and the development of the self through various stages. But rather than rely entirely on universal drives from within the psyche to explain cognitive development and personality, he integrated information from anthropology about the role played by society and culture. In short, children within each culture learn different values, different goals, and receive vastly different kinds of nurturing and guidance. These influences powerfully shape how the psyche of the child develops and influences how he/she will navigate the typical challenges presented by psychological and physical development.

But despite such differences from one society to the next, Erikson was able to elaborate a theory of development that was also universal. He perceived that there were eight distinct phases of development (in contrast to Freud’s five). The stages were Trust vs. Mistrust, Autonomy vs. Shame & Doubt, Initiative vs. Guilt, Industry vs. Inferiority, Identity vs. Role Confusion, Intimacy vs. Isolation, Generativity vs. Stagnation, and Integrity vs. Despair. To be negotiated successfully, the individual must find the balance of each value. That is he must, for example be able to feel a healthy degree of trust while maintaing enough “distrust” to avoid gullability.

In addition, while Freud’s stages of development focused only on the period from birth to age five (as he believed personality was fully formed by that time), Erikson saw growth and development as something that stretched throughout the life cycle. According to Erikson there were various “crises” that developed naturally and inevitably at various points in the life cycle. Successful resolution of these crises would determine whether one later experienced relative happiness, or discontent and neurosis. In addition, each of the different phases — and the skills that came from resolving each successive crisis — built upon those that came before.

One value of this theory is that it illuminated why individuals who had been thwarted in the healthy resolution of early phases (such as in learning healthy levels of trust and autonomy in toddlerhood) had such a tough time of it with the crises that came in adulthood. More importantly, it did so in a way that provided answers for practical application. It raised new potential for therapists and their patients to identify key issues and skills that required addressing. But at the same time, it yielded a guide or yardstick that could be used to assess teaching and child rearing practices in terms of their ability to nurture and facilitate healthy emotional and cognitive development.

In fact, Erikson’s contributions to the field of child development are only matched in impact and significance by the work of Jean Piaget. Like Piaget, Erikson came to the conclusion that children should not be rushed in their development; that each developmental phase was vastly important and should be allowed time to fully unfold. While Piaget emphasized that cognitive development could not be rushed (without sacrificing full intellectual potential), Erikson emphasized that a child’s development must not be rushed, or dire emotional harm would be done, harm that would seriously undermine a child’s ability to succeed in life.

Ironically, Erikson, whose work has done so much to promote the healthy emotional and cognitive nurturance of children, had a mentally handicapped son, Neil, who lived his entire 21 years discarded in an institution. Born with severe Down Syndrome and physical handicaps, Neil Erikson was predicted by doctors to live for no more than one to two years. His parents, busy intellectuals with three more children at home to care for, conceded to the doctor’s recommendation and institutionalized their son. They told the other children that Neil had died. Eventually however the truth resurfaced. Before and after, it was a source of friction within the household. Erikson’s biographer, Lawrence J. Friedman, has pointed out that the life of his youngest child may have served as a constant contrasting back drop for both Joan and Erik Erikson as they co-developed the theories of healthy child development that eventually emerged in Childhood and Society

Even as the book came out and he achieved promotion to professorship, Erikson left his position at U.C. Berkeley in order to sidestep a (McCarthy era) demand that all professors sign an oath of loyalty. He moved to Massachusetts to work at the Austen Riggs Center, and then, in 1960, accepted a professorship at Harvard, where he remained until his retirement. Erikson continued, throughout most of his life, to heavily identify as a writer and to produce significant books and papers. His excellence in this area was acknowledge upon the publication of his extensive work on the life and personality of Mahatma Gandhi, Gandhi’s Truth: the book earned him both the Pulitzer Prize and the National Book Award. After his retirement from Harvard in 1970, Erikson continued writing, doing research, and occasionally lecturing. But in 1980 serious health problems (including prostate cancer) forced him into full retirement. He died in 1994 at the age of 91, passing peacefully in his sleep.

Mother: Karla Abrahamsen
Father: Dr. Theodor Homberger (stepfather)
Wife: Joan Serson
Son: Kai T. Erikson
Son: Jon MacDonald
Daughter: Sue
Son: Neil (down syndrome)

    Professor: Harvard Medical School (1934-35)
    Professor: Yale Medical School (1936-39)
    Professor: University of California at Berkeley (1939-51)

Author of books:
Childhood and Society (1950, psychology)
Young Man Luther (1958, psychology)
Insight and Responsibility (1964, psychology)
Identity: Youth and Crisis (1968, psychology)
Gandhi’s Truth (1969, psychology)
Dimensions of a New Identity (1974, psychology)
Life History and the Historical Moment (1975, psychology)
The Life Cycle Completed (1987, psychology, with J.M. Erikson)

Read Full Post »


Psikologi merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat dikatakan androsentris. Psikologi berdiri dan berkembang oleh para ilmuwan laki-laki. Teori-teori dasarnya pun diambil dari kehidupan laki-laki. Misalkan saja Erik Erikson yang mengemukakan teori perkembangan manusia padahal penelitiannya hanya didasarkan pada kehidupan tiga remaja laki-laki[1]. Atau jika teori itu didasarkan pada kehidupan perempuan, yang diambil adalah pasien perempuan yang neurotik. Misalnya saja teori besar dari Sigmund Freud yang didasarkan pada kehidupan pasien-pasien perempuannya yang neurotik[2]. Namun teori ini justru dijadikan salah satu teori utama dalam psikologi.

Dalam perkembangannya, psikologi kemudian melihat ketimpangan-ketimpangan gender dalam ilmunya. Psikologi berusaha melihat lebih jauh, dan sebenarnya ini sudah dimulai sejak 1876 ketika Mary Putman Jacobi menyatakan bahwa perempuan membutuhkan istirahat fisik dan mental secara khusus saat menstruasi[3]. Disusul kemudian oleh Helen Thompson Wooley, Leta Stetter Hollingworth, dan masih banyak lagi psikolog feminis lainnya. Mereka perlahan mulai membuka jalan untuk teori-teori psikologi mengenai perempuan dikaji ulang meskipun pengkajian ini sulit dilaksanakan. Bahkan sekitar akhir tahun 1970-an, Erik Erikson masuk dengan teori barunya mengenai perkembangan manusia, yang kini bahkan begitu populer di kalangan psikologi perkembangan.

 

Namun perjuangan para psikolog yang feminis tidaklah usai. Di tahun 1970-an ketika kaum feminis mengangkat isu KDRT ke publik, seorang psikolog feminis, Lenore Walker, mengguncang dunia psikologi dengan hasil penelitiannya mengenai sindrom perempuan teraniaya (battered women’s syndrome)[4]. Meskipun banyak dikritik, di antaranya oleh Mary Ann Dutton, teori Lenore Walker tentang dampak dan siklus kekerasan membuka pemahaman baru mengenai kondisi psikologis korban. Hasil penelitiannya ini bahkan diaplikasikan dalam bidang hukum, khususnya dijadikan sebagai landasan untuk membela korban KDRT yang menjadi pelaku pembunuhan terhadap suaminya[5]. Salah satu kasus yang terkenal adalah Kiranjit Alwuhalia, seorang perempuan India yang akhirnya dibebaskan dari penjara di London. Pembunuhan yang dilakukannya dianggap sebagai dampak sindrom perempuan teraniaya.

 

Setelah Lenore Walker, tokoh psikologi yang kembali menggaungkan isu perempuan adalah Carol Gilligan. Ia mengkritik perkembangan moral menurut Lawrence Kohlberg, yang menempatkan perkembangan moral perempuan pada posisi yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Menurut Gilligan, perempuan memiliki tahap perkembangan moral tersendiri karena perempuan bertumbuh dengan pengalaman yang berbeda dibandingkan laki-laki[6]. Ia kemudian mengembangkan konsep etika kepedulian, yang berlawanan dengan etika keadilan milik laki-laki. Konsep ini kemudian membuat kaum feminis mulai berpikir untuk melihat kelebihan perempuan, menjadikannya sebuah keunikan, dan bukan malah menghilangkannya. Dampak teori Gilligan pada perkembangan teori hukum feminis juga sangat besar.

Bersamaan dengan bertumbuhnya gerakan feminis gelombang kedua pada tahun 1970an itu, psikologi mengembangkan sebuah terapi yang dinamakan terapi feminis (feminist therapy). Terapi ini dimulai di Iowa kemudian menyebar ke Oklahoma. Selanjutnya terapi ini digunakan untuk menangani kasus-kasus kekerasan domestik dan perkosaan, yang sebelumnya diabaikan dalam bidang kesehatan mental. Di tahun 1982, Institut Terapi Feminis didirikan dan tahun 1987 diciptakan kode etiknya yang kemudian diperbaharui pada tahun 1999[7].

 

Terapi feminis sangat berbeda dengan psikoterapi lain dalam hal menggunakan konteks sosial yang lebih luas dalam melihat permasalahan individu. Terapi ini terbentuk atas dasar keyakinan bahwa masalah intrapsikis seringkali bersumber dari luar diri klien seperti seksisme, diskriminasi, kekerasan, dan sebagainya. Terapi ini juga membawa isu kekuasaan (power). Oleh karena itu, terapi ini berfokus pada perubahan sosial, bukan sekedar perubahan individu[8].

Namun perlu diingat bahwa untuk bukan hanya perempuan yang membutuhkan terapi, tetapi juga laki-laki. Jika hanya kesejahteraan perempuan yang diperhatikan, maka pada akhirnya nanti hanya akan menimbulkan opresi dengan korban baru, yaitu laki-laki. Tambahan pula, dalam kehidupan di dunia ini yang jelas terisi oleh perempuan dan laki-laki, maka kesejahteraan perempuan pun dipengaruhi oleh interaksinya dengan laki-laki. Dengan demikian, dunia yang lebih baik hanya akan tercapai jika kesejahteraan laki-laki dan perempuan sama-sama diperhatikan.

Sementara itu, laki-laki bentukan budaya patriarki bukanlah laki-laki yang senang mendiskusikan masalah pribadinya dengan orang lain. Laki-laki juga diajarkan untuk tegar menghadapi masalahnya sendiri dan sedapat mungkin tidak mencari bantuan. Laki-laki dididik untuk tidak mengekspresikan kesedihan dan kecemasannya. Hal-hal seperti ini tentu menghambat laki-laki untuk menemui seorang konselor. Padahal laki-laki bukannya tanpa masalah. Sebagai contoh saja, dibesarkan dalam masyarakat yang menekankan perannya sebagai pencari nafkah, laki-laki yang tidak sukses berkarir akan rentan terkena stres.

Mengingat hal-hal di atas, terapi feminis pun dimodifikasi menjadi terapi sensitif gender (Gender Sensitive/Gender Aware Therapy). Terapi ini melihat masalah laki-laki dalam konteks gender. Terapi ini juga berbeda dengan terapi lain yang sesinya didominasi oleh ‘bercerita’, terapi ini lebih menekankan kepada sesi melakukan kegiatan. Hal ini dikarenakan interaksi laki-laki lebih bersifat action based, dan bukan talk-based.

Sampai saat ini, psikologi feminis terus berusaha memperjuangkan yang terbaik bagi kaum perempuan. Dalam perjuangan ini, kesejahteraan kaum laki-laki pun tidak diabaikan. Karena tujuannya bukan menukar korban opresi dari perempuan menjadi laki-laki, melainkan meniadakan opresi tersebut.

[1] Williams, Juanita H. Psychology of Women. Behavior in a Biosocial Context. 3rd ed. (USA : W.W. Norton & Company, Inc. 1987) 57.[2] Setelah ditelusuri lebih lanjut, para perempuan ini neurotik karena bentukan budaya patriarkis.[3] Crawford, Mary & Unger, Rhoda. Women and Gender : A Feminist Psychology. 3rd ed. USA : McGraw-Hill Companies. 2000.

[4] Oleh Barnett, Ola W & LaViolette, Alyce. D. (1993). It Could Happen to Anyone : Why Battered Women Stay. USA : SAGE Publications.

[5] Oleh Geneva Brown, dalam When The Bough Breaks : Traumatic Paralysis-An Affirmative Defense For Battered Mothers.

[6] Dalam In a Different Voice, 1982.

[7] http://austinfeministtherapist.com/history.html

[8] Crawford, Mary & Unger, Rhoda. Women and Gender : A Feminist Psychology. 3rd ed. USA : McGraw-Hill Companies. 2000.

Read Full Post »

Older Posts »