Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘SMP Negeri 5 Yogyakarta’ Category


Sekhah Efiaty, M.Pd.

Musyawarah Guru Bimbingan dan Penyuluhan Kota Yogyakarta, yang dimotori oleh Ibu Endang, telah mengadakan pelatihan Moda Daring pada tanggal 28 September 2016. Pelatihan dilaksanakan di SMP Negeri 5 Yogyakarta menempati ruang Laboratorium Serba Guna. Pengurus dan anggota yang hadir sebanyak 60an orang terlihat sangat antusias. Sebagai pemandu acara adalah Bapak Supardi, Kepala Sekolah SMP Islam Indonesia Yogyakarta. igi-bk

Pelatihan diawali dengan pembukaan oleh Pembawa Acara dengan salam dan doa pembukaan, kemudian dilanjutkan sambutan Ketua MGBP. Ketua MGMP menjelaskan bahwa sebenarnya beberapa waktu yang lalu, MGBP sudah pernah diundang oleh IGI Kota Yogyakarta untuk mengikuti pelatihan serupa. Namun demikian karena saat itu belum terpikirkan tentang kebutuhan pelatihan Moda Daring bagi anggota MGBP, maka penawaran tersebut kurang diperhatikan. Setelah para anggota banyak yang meminta untuk diadakan pelatihan Moda Daring, maka Ketua MGBP cepat menanggapinya dan segera menghubungi IGI Kota Yogyakarta. Bidang pelatihanpun menyambut baik keinginan MGBP dan menerima permintaan tersebut.

Acara dilanjutkan pengarahan dari Kepala Sekolah tuan rumah. Menurut Kepala Sekolah SMP Negeri 5 Yogyakarta yang diwakili oleh Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum, Sujiyana, S.Pd., M.Pd., pelatihan Moda Daring merupakan pelatihan yang sangat bermanfaat. Akhir-akhir ini para guru telah mengetahui apa yang harus dilakukan setelah pengumuman nilai UKG. Diharapkan setelah pelatihan Moda Daring para guru akan menjadi lebih familier ketika guru tersebut mengikuti pelatihan Moda Daring yang sesungguhnya yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Pelatihan Moda Daring MGBP Kota Yogyakarta didampingi oleh IGI Kota Yogyakarta, yang mengirimkan tiga pengurusnya, Amk. Affandi, S.Pd., Sekhah Efiaty, M.Pd., serta Nurul Hidayati, S.Pd. Di dalam pembukaannya, Amk. Affandi mengungkapkan bahwa IGI akan membuka kran Moda Daring dan menutupnya kembali. Sementara untuk konten dari aplikasi Moda Daring dipelajari sendiri oleh anggota MGBP. Ditambahkan pula agar peserta mempelajari ikon yang ada pada aplikasi, sebab setiap ikon mempunyai fungsi yang berbeda. Peserta tidak boleh takut membuka setiap menu yang ada, sebab masih dalam taraf belajar, sehingga tidak perlu takut terjadi kesalahan. Justru dengan berani membuka setiap menu, maka setiap peserta akan lebih tahu isi menu yang ada.

Ketika acara inti sudah dimulai, peserta terlihat makin penasaran dengan aplikasi Moda Daring. Namun demikian Sekhah Efiaty sebagai pemandu mengantarkan tentang Moda Daring dari hasil UKG tahun 2015 yang tertera di dalam Neraca Pendidikan DIY (NPD) dan Neraca Pendidikan Kota Yogyakarta (NPK). Berdasarkan NPD dan NPK, nilai UKG nasional tahun 2015 rata-rata adalah 56,69. Nilai UKG tersebut rata-rata tertinggi diraih oleh Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni 67,02. Di DIY sendiri, nilai tertinggi diperoleh Kota Yogyakarta yang mencapai rata-rata 67, 02. Nilai UKG yang ada kemudian dimasukkan ke dalam rapor elektronik masing-masing guru. Melihat hasil UKG inilah maka pemerintah kemudian mengelompokkan perolehan nilai UKG menjadi beberapa kelompok. Bagi guru yang tidak memiliki nilai merah, maka didiklat menjadi Narasumber. Guru yang rapor merahnya nol hingga dua, didiklat menjadi Instruktur Nasional. Sedangkan yang nilai merah rapornya lebih dari dua, dikelompokkan menjadi 3 kelompok Guru Pembelajar. Masing-masing kelompok akan mendapatkan pelatihan  dengan Moda Daring, Moda Kombinasi, dan Moda Tatap Muka. img-20160928-wa0058

Pelatihan yang diadakan oleh MGBP adalah mencoba menggunakan Moda Daring. Di dalam pelatihan Moda Daring, para guru mendapatkan pelatihan dengan sistem Dalam Jaringan atau disingkat Daring (online). Di dalam pelatihan tersebut peranan dari akses internet sangat penting. Apalagi jika peserta mengandalkan jaringan yang ada di ruangan tersebut. Sangat beruntung bagi peserta yang membawa modem ataupun Handphone, sebab bisa lebih mudah mengakses internet. Pelatihan dilaksanakan secara perlahan tahap demi tahap. Aplikasi yang digunakan adalah aplikasi yang diberikan saat Instruktur Nasional mendapatkan pelatihan. Jadi bukan aplikasi yang sesungguhnya yang akan dihadapi saat peserta memdapatkan diklat yang sesungguhnya. Namun demikian karena aplikasi tersebut hampir sama maka tidak percuma apabila diberikan untuk pelatihan.

Pelatihan pemanfaatan aplikasi Moda Daring dilakukan secara menyeluruh pada satu Kelompok Kompetensi. Menu yang dibuka mulai dari Sesi Pendahuluan hingga Sesi Penutup. Amk. Affandi dan Sekhah Efiaty memandu dengan tekun langkah demi langkah. Sekhah Efiaty bertugas menjelaskan langkah-langkah pemanfaatan aplikasi, sementara Amk. Affandi memandu peserta satu persatu. Kegiatan diakhiri setelah berlangsung pelatihan selama 3,5 jam. Meskipun tidak dapat tuntas, setidaknya peserta telah mengenal aplikasi Moda Daring dari Sesi Pendahuluan hingga Sesi Penutup.

 

 

 

Read Full Post »


Sekhah Efiaty, M.Pd.

MGMP IPS Kota Yogyakarta selalu saja mengadakan aktivitas kekinian. Tidak hanya yang menyangkut pendalaman materi IPS, akan tetapi juga mengikuti perkembangan dan kebutuhan anggotanya. Aktivitas dilakukan tidak hanya saat ada bantuan dana dari pemerintah, tetapi juga menggunakan dana mandiri. Para anggota tidak pernah keberatan apabila harus ada kontribusi, dimana penggunaan dananya akan kembali kepada anggota itu sendiri. Penggunaan dana dialokasikan untuk membeli konsumsi peserta, sebagian dialokasikan untuk jasa kebersihan, dan apabila ada sisa anggaran maka akan dimasukkan ke dalam kas MGMP, yang dikelola oleh bendahara, Ibu Rimawati dari SMP Negeri 15 Yogyakarta.

Jpeg

Suasana pelatihan Moda Daring MGMP IPS Kota Yogyakarta

Seperti halnya kemarin pada tanggal 23 September, MGMP IPS yang dimotori oleh Bapak Sumarjo dari SMP Negeri 9 ini, berhasil mengumpulkan anggotanya hingga sekitar 80 orang. Para anggota MGMP dengan tekun mengadakan pelatihan Moda Daring. Diklat Moda Daring Mata Pelajaran IPS SMP yang sesungguhnya belum dimulai untuk kota Yogyakarta. Ketua MGMP IPS Kota Yogyakarta berharap, dengan pelatihan tersebut maka pada saat diklat yang sesungguhnya, para anggota  sudah familier dengan aplikasi yang ada, sehingga tidak grogi lagi.

Sekedar untuk diketahui, bahwa Kota Yogyakarta beberapa waktu yang lalu telah mengirimkan enam guru IPS untuk mengikuti diklat sebagai IN Guru Pembelajar di Solo. Adapun guru-guru tersebut adalah Dedy Rushadmaka, S.Pd. (SMPN 16), Heru Supriyanto, S.Pd. (SMPN 9), Supriyati, S.Pd. (SMPN 4), Sumin, S.Pd.(SMP TD), Eni Murtiningsih, S.Pd.(SMPN 1) dan Sekhah Efiaty, M.Pd. (SMPN 5). Di dalam pelatihan tersebut guru-guru yang telah mengikuti IN memfasilitasi teman sejawat untuk belajar daring sebagai Guru Pembelajar.

Ada yang membanggakan MGMP IPS Kota Yogyakarta, yakni bahwa di setiap kegiatan, selain antusiasme peserta yang begitu tinggi, mau swadana baik indoor maupun outdoor, juga disebabkan karena dari sekian anggota yang hadir, di antaranya telah menjadi Kepala Sekolah, Pengawas maupun jabatan lainnya. Beliau-beliau adalah Ibu Yuniarti, M.Pd. (Kepala SMPN 4), Ibu Nuryani, M.Pd. (SMPN 8), Drs. Arief Wicaksono, M.Pd. (SMPN 9), Ibu Titik (SMPN 10), Bapak Subandiyo, S.Pd. (SMPN 12),  Bapak Zaenal Fanani, S.Pd.(SMP Muh. 7), Bapak Sugiyana, M.Pd. (Pengawas), dan beberapa yang telah habis masa tugasnya sebagai Kepala Sekolah seperti Bapak Supraptomo, S.Pd. (SMPN 3) dan Bapak Tyas Ismulah, S.Pd. (SMPN 1). Kehadiran Beliau-beliau telah memotivasi anggota lainnya untuk terus meningkatkan kualitas untuk menjadi guru yang makin profesional. (Mohon maaf dan mohon koreksi apabila ada nama atau titel yang kurang sesuai)

Pelatihan Moda Daring MGMP IPS dilaksanakan di kantor Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, di Ruang Truntum Lantai 4 yang representatif. Ruangan yang bersih, sejuk ber-AC serta dilengkapi LCD Projector, layar Screen, dan juga Wifi makin menambah semangat anggota MGMP. Pelatihan dibuka oleh Bapak Hasyim dari Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta. Ulasan singkat tentang Moda Daring Guru Pembelajar juga disampaikan oleh Pengawas IPS Bapak Sugiyana. Pukul 16.00 pelatihan diakhiri dengan menghasilkan beberapa materi yang dapat diunduh di halaman ini dengan klik berikut:

  1. Panduan Pelatihan Moda Daring
  2. Buku Manual Peserta Guru Pembelajar
  3. NPD Yogyakarta
  4. Modul A
  5. Modul B
  6. Modul C
  7. Modul D
  8. Modul E
  9. Modul F
  10. Modul G
  11. Modul H
  12. Modul I
  13. Modul J

Read Full Post »


S. Efiaty, M.Pd.

Rapat kerja merupakan langkah penting dan harus dilakukan secara rutin oleh suatu institusi demi keberhasilan sebuah program kerja di masa yang akan datang. Hal penting yang harus dipersiapkan dimulai dari penyusunan rencana rapat kerja, yaitu dengan menyusun proposal hingga hasil keterlaksanaan kegiatan yang dituangkan dalam bentuk laporan rapat kerja. Persiapan rapat kerja dilakukan agar efektif dan efisien. Rapat yang tanpa rencana ada kemungkinan menjadi bertele-tele dan bahkan jika ada masalah maka tidak akan menemukan solusi yang jelas.

Setelah perencanaan disusun kemudian dilaksanakan rapat kerja. Di dalam pelaksanaan harus jelas apa latar belakang, tujuan, hingga tentang agenda dan pengaggaran. Apabila di dalam institusi yang bersangkutan terdapat bagian-bagian, maka setiap bagian harus menyiapkan laporan program kerja tahun sebelumnya dan menyusun program kerja tahun berikutnya. Laporan yang disusun merupakan bahan evaluasi yang akan dipakai pada program kerja tahun berikutnya. Harapan dari terlaksananya rapat kerja adalah untuk meningkatkan kinerja semua bagian dan seluruh warga yang ada di institusi yang bersangkutan, yang manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Menurut ebuah sumber, sebuah rapat kerja yang efektif harus berlandaskan pada:

  1. Penggunaan waktu secukupnya dalam membuat keputusan.
  2. Hanya membicarakan hal-hal yang telah diagendakan.
  3. Menekankan objektifitas dan hasil yang diharapkan.

Pemimpin rapat dapat menciptakan rapat yang lebih efektif dengan menggunakan cara-cara praktis yang telah mendapat rekomendasi dari para top manajer, tim penilai institusi , dan buku-buku referensi. Cara ini bahkan bisa langsung diterapkan untuk mendapatkan solusi yang lebih cepat dan lebih efektif.

Agenda Rapat
Tidak mungkin terjadi suatu rapat yang efektif, jika rapat dilakukan tanpa agenda yang jelas. Agenda yang jelas merupakan panduan bagi peserta raker, sehingga sebelum pelaksanaan mereka sudah dapat mengetahui garis besar dari rapat kerja yang akan mereka ikuti. oleh karena itu susunlah agenda yang jelas, baik waktu pelaksanaan, tempat, materi maupun nara sumber yang bakal mengisi acara. dengan demikian maka para peserta dapat berjaga-jaga dan tau kapan mereka berangkat, kapan mereka pulang, manfaat apa rapat kerja bagi mereka.

nara sumber dan peserta yang melakukan presentasi harus menyiapkan semua bahan dengan lengkap agar dapat menyelesaikan presentasinya sesuai waktu yang telah ditentukan. Agar lebih jelas, berikan lembaran agenda pada setiap peserta rapat. Tentu saja agenda yang ditulis secara detail, bukan hanya berisi tema, karena hal ini sangat rentan melenceng.

Agenda rapat sebaikanya hanya berisi permasalahan yang memang tengah dialami saja. Sebab kebanyakan rapat, bukan hanya membahas hal yang bermasalah, bahkan yang tidak bermasalah juga dibicarakan. Sehingga, orang yang tidak bermasalah pun terpaksa harus bebicara di dalam rapat.

Komunikasi
Komunikasikan agenda rapat dengan cara membaginya terlebih dahulu. Sehingga peserta rapat dapat mempersiapkan materi tentang topik yang akan dibahas di dalam rapat.

Jadwal Rapat
Jadwal yang baku akan membantu para manajer mendapat laporan secara tepat waktu dan mendisplinkan para karyawan untuk menghadiri rapat.

Perhatikan Situasi
Beberapa manajer mampu membuat rapat menjadi efektif dan efisien, tetapi juga ada manajer yang memaksakan keputusannya pada peserta rapat agar rapat bisa cepat selesai. Rapat yang efektif bukan dilihat dari waktu pelaksanaan yang singkat, tetapi bagaimana kita mempu mempertemukan pendapat yang berbeda dengan situasi yang nyaman dan kondusif.

Pengambilan Suara
Pengambilan suara merupakan cara tersingkat untuk mendapatkan keputusan. Pengambilan suara dapat diambil bila diskusi yang terjadi tidak memperlihatkan gambaran keputusan yang terang dan tidak ada mayoritas mutlak. Sebelum melakukan proses pengambilan keputusan, voting akan lebih mempercepat pengambilan keputusan, sehingga mereka harus siap menerima apapun keputusannya.

Batasi Masalah Diskusi
Para pakar menyarankan untuk membahas permasalahan  berbeda di rapat yang berbeda pula. Saat membuka rapat, jelaskan bahwa mereka hanya akan membahas permasalahan tertentu. Topik yang memerlukan diskusi, dilakukan pada rapat yang khusus mendiskusikan masalah tersebut.

Untuk mendapat keputusan, maka diperlukan rapat khusus pengambilan suara. Pembatasan ini memberikan anggotanya untuk lebih siap dalam mencari solusi dan  menetapkan pilihan di luar rapat, sehingga hasil yang didapat pun memuaskan. Dan rapat pun telah berjalan secara efektif dan efisien.

 

Read Full Post »


 S. Efiaty

Setiap kejadian atau peristiwa dapat dilihat dan dikaji dari berbagai sudut pandang atau aspek, baik ruang, waktu, kebutuhan, kemasyarakatan, dan budaya. Di dalam memahami keadaan alam dan aktivitas penduduk kita awali dengan memahami konsep keterkaitan (konektivitas) antar-ruang dan waktu. Ruang adalah tempat di permukaan bumi, baik secara keseluruhan maupun hanya sebagian (Sumaatmadja, 1981).  Misal ruang kelas yang kita tempati. Ruang kelas merupakan satu kesatuan antara komponen lantai,  udara, langit-langit/plafon ruangan, dan lain-lain. Demikian halnya dengan ruang permukaan bumi, yang tidak hanya sebatas tanah yang kita injak, tetapi ada udara, air, batuan, tumbuhan, hewan, dan lain-lain. Dalam sejarah, konsep waktu sangat penting untuk mengetahui peristiwa masa lalu dan perkembangannya hingga saat ini. Konsep waktu dalam sejarah mempunyai arti masa atau  periode berlangsungnya perjalanan kisah kehidupan manusia. Waktu dapat dibagi menjadi tiga, yaitu waktu lampau, waktu sekarang, dan waktu yang akan datang. Materi selengkapnya silahkan klik materi kls 7 bab 1 K13

 

Read Full Post »


S. Efiaty

Menurut Undang Undang No. 23 Tahun 1997, lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Sedangkan ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang, tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berwawasan Nusantara dalam melaksanakan kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksinya.

Dalam lingkungan hidup terdapat ekosistem, yaitu tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup.

Merujuk pada definisi di atas, maka lingkungan hidup Indonesia tidak lain merupakan Wawasan Nusantara, yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alamiah dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya, tempat bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan bernegara dalam segala aspeknya.

Secara hukum maka wawasan dalam menyelenggarakan penegakan hukum pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia adalah Wawasan Nusantara.

Klik di sini untuk tugas Bab 3 …

 

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Lingkungan_hidup

BSE IPS karangan Sanusi Fattah, Amin Hidayat Juli Waskito, Moh. Taukit Setyawan

Read Full Post »


Oleh: S. Efiaty

Bulan Juni sudah hampir habis, sebentar lagi berganti dengan bulan Juli, bulan baru, tahun ajaran baru, kurikulum baru. Sudah siapkah kita menyambut semuanya??? yah…siap tidak siap kita harus menyambutnya dengan optimis. Tidak ada yang sulit, tidak ada yang susah, jika kita mau memahaminya. Dunia memang dinamis, bumi dinamis, manusia dinamis, semua selalu mengalami perubahan baik fisik maupun nonfisik. Manusia yang dinamis adalah manusia yang akan tetap eksis di manapun dia berada, kapanpun dia hidup, dan bagaimanapun lingkungan mempengaruhinya. Hal ini karena manusia adalah makhluk hidup yang dianggap paling sempurna dibandingkan dengan makhluk hidup yang lainnya. Kesempurnaannya inilah yang seharusnya menjadikan manusia lebih adaptif terhadap perubahan yang ada. Jika sekarang kita dihadapkan pada perubahan kurikulum yang ada, tentu semua karena tuntutan zaman. Oleh karena itu mari kita terima perubahan yang ada dengan optimis, pikiran jernih dan positif. Sebelum kurikulum ada di tangan kita, mari kita pahami lebih dulu aturan-aturan yang mendasarinya. Peraturan-peraturan tersebut selengkapnya dapat diunduh disini:

A. Standar Kompetensi Lulusan

  1. 01-a-salinan-permendikbud-no-54-tahun-2013-ttg-skl
  2. 01-b-salinan-lampiran-permendikbud-no-54-tahun-2013-ttg-skl

B. Standar Proses

  1. 03-a-salinan-permendikbud-no-65-th-2013-ttg-standar-proses
  2. 03-b-salinan-lampiran-permendikbud-no-65-th-2013-ttg-standar-proses

C. Standar Penilaian

  1. 04-a-salinan-permendikbud-no-66-th-2013-ttg-standar-penilaian
  2. 04-b-salinan-lampiran-permendikbud-no-66-th-2013-tentang-standar-penilaian

D. Kompetensi Dasar  dan Struktur Kurikulum SD-MI

  1. 05-a-salinan-permendikbud-no-67-th-2013-ttg-kd-dan-struktur-kurikulum-sd-mi
  2. 05-b-salinan-lampiran-permendikbud-no-67-th-2013-ttg-kurikulum-sd

E. Kompetensi Dasar  dan Struktur Kurikulum SMP-MTs

  1. 06-a-salinan-permendikbud-no-68-th-2013-ttg-ttg-kd-dan-struktur-kurikulum-smp-mts
  2. 06-b-salinan-lampiran-permendikbud-no-68-th-2013-ttg-kurikulum-smp-mts

F. Kompetensi Dasar dan Struktur Kurikulum SMA-MA

  1. 07-a-salinan-permendikbud-no-69-th-2013-ttg-ttg-kd-dan-struktur-kurikulum-sma-ma
  2. 07-b-salinan-lampiran-permendikbud-no-69-th-2013-ttg-kurikulum-sma-ma

G. Kompetensi Dasar dan Struktur Kurikulum SMK-MAK

  1. 08-permendikbud-nomor-70-ttg-kerangka-dasar-dan-struktur-kurikulum-smk-mak-dan-lampiran-versi-05-06-13-aries-edit-hukor

H. Buku Teks Pelajaran

  1. 09-permendikbud-nomor-71-tahun-2013-ttg-buku-teks-pelajaran-layak

Semoga materi di atas mampu membekali kita dalam menyambut kedatangan kurikulum baru. Mari kita download peraturan di atas, kemudian kita cetak sebagai bahan bacaan saat waktu luang. Semoga usaha kita untuk membekali generasi setelah kita tidak sia-sia …

 

diambil dari berbagai sumber

Read Full Post »


S. Efiaty, S.Pd.

Perlunya pendidikan untuk anak yang memiliki potensi cerdas istimewa (CI) secara eksplisit diungkapkan dalam UU no. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Secara spesifik disebutkan bahwa anak CI berhak mendapatkan pendidikan khusus, yang diarahkan untuk pengembangan potensi yang ada agar dapat diwujudkan dalam bentuk karya atau prestasi.

Selama ini layanan pendidikan untuk anak CI diwujudkan dalam bentuk program akselerasi yang dilakukan di sekolah-sekolah mulai tingkat SD, SMP sampai SMA. Program akselerasi yang dilakukan lebih diarahkan pada percepatan penyelesaian studi, SD dapat diselesaikan dalam waktu 5 tahun dan SMP/SMA diselesaikan dalam waktu 2 tahun. Di satu sisi, program ini menjadi salah satu andalan sekolah untuk memberikan nilai tambah, sehingga reputasi sekolah yang bersangkutan menjadi lebih baik di mata masyarakat. Sehingga banyak sekolah yang berminat membuka program tersebut, meskipun kesiapan sumber daya dan pemahaman tentang konsep anak CI masih sangat terbatas.

Berdasarkan data yang ada pada penulis, di seluruh Indonesia terdapat 191 sekolah penyelenggara akselerasi yang tersebar di 22 propinsi. Data ini agak berbeda dengan data resmi Dit PSLB tahun 2007 yang menyatakan bahwa terdapat 130 sekolah tersebar di 27 propinsi dengan jumlah siswa 4510 orang. Meskipun kedua data ini berbeda, namun tampak bahwa jumlah anak CI yang terlayani jumlah masih relatif sedikit.

Beberapa ahli psikologi menyatakan bahwa sekitar 2,2% dari populasi anak usia sekolah, ada yang memiliki kecerdasan istimewa. Apabila menggunakan data BKKBN tahun 2004 terdapat 39.246.700 orang anak usia 7-15 tahun. Artinya terdapat 863.427 anak CI. Jika dibandingkan dengan data Direktorat PSLB tahun 2007, yang menyebutkan baru 4.510 anak CI yang terlayani di program akselerasi, berarti baru 0,52% yang terlayani.

Di sisi lain, sorotan akan keberadaan program akselerasi juga tidak kurang semaraknya. Salah satu hal penting yang disoroti adalah rendahnya kecakapan sosial siswa, sehingga cenderung mereka menjadi asing dengan lingkungan dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Sorotan negatif ini kemudian menjadi alasan bagi sekelompok pihak untuk meminta pembubaran program akselerasi. Kritik tersebut dapat dipahami, karena jika dicermati lebih jauh, tidak semua siswa di kelas akselerasi memenuhi kriteria psikologis yang mencakup IQ, kreativitas dan task commitment. Akibatnya mereka tidak mampu mengikuti program dengan baik dan berdampak prestasi yang diraih menjadi tidak optimal. Faktor guru, juga merupakan aspek yang mempengaruhi efektivitas penyelenggaraan akselerasi. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar guru tidak disiapkan untuk mengajar di program akselerasi, serta karateristik psikologis guru tersebut kurang cocok untuk melayani anak CI. Di samping itu, ditemukan juga di beberapa sekolah, penugasan guru untuk mengajar program akselerasi dilakukan secara bergantian (seperti model arisan) dengan alasan pemerataan kesempatan.

Kondisi di atas menunjukkan bahwa layanan pendidikan untuk anak CI belum dilakukan secara cukup memadai. Lebih jauh diperlukan keterlibatan semua pihak untuk menjadikan pendidikan. Menyadari keadaan semacam itu, pada bulan Desember 2007 dilakukan pertemuan di Semarang yang diikuti oleh unsur sekolah, perguruan tinggi, Direktorat PSLB, Dinas Pendidikan dan kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap anak CI. Pertemuan tersebut menyepakati pembentuk suatu perhimpunan yang diberi nama Asosiasi Penyelenggara, Pengembang dan Pendukung Pendidikan Khusus untuk Anak Cerdas/Berbakat Istimewa disingkat ASOSIASI CI/BI. Secara umum ada tiga kelompok yang berhimpun dalam Asosiasi, yaitu sekolah (penyelenggara), perguruan tinggi (pengembang), serta pemerintah dan masyarakat (pendukung).

Asosiasi CI/BI merupakan badan mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka peningkatan mutu secara berkelanjutan dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Pendidikan Asosiasi CI/BI memiliki 4 tujuan, yaitu: (1) meningkatkan kapasitas kelembagaan penyelenggara pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa, (2) Meningkatkan peluang bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk memperoleh akses terhadap layanan pendidikan yang bermutu dan berkelanjutan, (3) Meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa, (4) Mengembangkan jaringan informasi dan kerjasama.

Sementara itu, Asosiasi CI/BI berfungsi sebagai : (1) Penggerak, mendorong lembaga pendidikan penyelenggara pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk melakukan layanan pendidikan yang bermutu, efektif, dan berkelanjutan., (2) Pemberdaya, melakukan pembinaan dan pengembangan manajemen dan mutu layanan pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa, (3) Pengkoordinasi, membangun kerjasama dengan pemerintah dan instansi terkait dalam pemberdayaan lembaga penyelenggara pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa

Saat ini Asosiasi CI/BI sedang melakukan penataan organisasi dan penguatan kelembagaan melalui pembentukan pengurus-pengurus wilayah di setiap propinsi yang telah memiliki sekolah akselerasi. Di samping itu, Asosiasi CI/BI juga melakukan identifikasi pengumpulan data tentang anak-anak cerdas istimewa yang mengikuti program akselerasi. Asosiasi juga berupaya untuk memfasilitasi pengembangan potensi siswa cerdas/berbakat istimewa yang selama tidak terakomodasi di lembaga pendidikan formal dalam bentuk program akselerasi atau lainnya.

Dalam bidang kurikulum, pokja Asosiasi sedang melakukan kajian tentang kompetensi terutama bidang MIPA yang harus dimiliki oleh anak CI. Hal ini dilakukan karena selama ini, tidak tampak perbedaan kompetensi antara siswa program reguler dan program akselerasi. Yang membedakan hanya kecepatan menyelesaikan materi yang ditentukan dalam standar isi. Dalam bidang pembelajaran, Asosiasi CI/BI sedang,mengkaji model pembelajaran inklusif untuk anak CI melalui sistem moving class dan pembelajaran akselerasi di dalam kelas inklusif.

Perhimpunan yang dibangun relatif masih baru, oleh karena itu aktivitas yang diselenggarakan oleh Asosiasi CI/BI masih sangat terbatas. pada tahun 2008, pengurus Asosiasi telah melakukan dua pertemuan untuk koordinasi program dan pertengahan Juni 2008 telah diadakan pelatihan Identifikasi Anak CI yang diikuti oleh para psikolog dari lingkungan perguruan tinggi maupun praktisi di biro psikologi yang menjadi mitra sekolah-sekolah akselerasi. Direncanakan pada akhir Juli 2008 Asosiasi akan meluncurkan blog dan pada akhir Agustus 2008, akan mengadakan seminar nasional tentang pengembangan pendidikan khusus bagi anak cerdas istimewa dari prespektif pemerintah, psikolog, pendidik, serta pendidikan karakter bagi anak CI. Cita-cita yang ingin dibangun Asosiasi CI/BI adalah menjadi bagian dari bangsa ini untuk membangun pendidikan yang lebih baik bagi semua. Meskipun terkesan ekslusif, namun program-program yang terkait dengan pengembangan pendidikan khusus bagi anak CI memberikan multiplier effect pada pendidikan secara keseluruhan.

Read Full Post »

Older Posts »